Kerusuhan Agustus 2025 dan Terori Sosial Baru yang Menjelaskannya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 16 Juni 2026 | 08:08 WIB

Sebuah teori sosial yang baik bukan hanya mampu menjelaskan masa lalu. Ia juga harus membantu membaca masa depan.

Jika lima variabel ini benar, maka kerusuhan digital bukanlah peristiwa yang unik bagi Indonesia. Ia berpotensi menjadi pola baru abad ke-21, muncul di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu kelas rentan digital dan dipercepat oleh mesin algoritma.

Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat telah berubah lebih cepat daripada teori yang selama ini kita gunakan untuk memahaminya.

Affan Kurniawan mungkin telah pergi. Namun kisahnya meninggalkan pertanyaan besar bagi ilmu sosial abad ke-21.

Bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, berkomunikasi melalui jaringan digital, dan bergerak dalam kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya?

Teori Kerusuhan Era Digital adalah upaya menjawab pertanyaan itu.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah.***

Catatan:

Setiap zaman melahirkan kelas sosial yang menjadi kendaraan utama perubahan sejarah.

Revolusi Industri melahirkan proletariat yang hidup di bawah mesin pabrik. Globalisasi melahirkan precariat yang hidup dalam ketidakpastian kerja.

Kini era algoritma melahirkan kelas baru yang berbeda. Jika proletariat adalah anak mesin industri, maka Digitally Vulnerable Class adalah anak algoritma.

Dari kelas sosial inilah lahir energi sosial yang menjelaskan banyak kerusuhan digital abad ke-21.

Referensi
1. Why Men Rebel. Ted Robert Gurr. Princeton University Press. 1970.
2. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Manuel Castells. Polity Press. 2012.
3. Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. Zeynep Tufekci. Yale University Press. 2017.

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB

Membaca Sumpah "Demi Allah" Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:41 WIB

Kisah 108 Solusi Presiden Prabowo Subianto

Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB
X