Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Agustus 2025 akan lama tinggal dalam ingatan bangsa ini.
Sore itu Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan suara sirene. Di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan terjatuh dan tak pernah bangkit kembali.
Ia bukan pemimpin demonstrasi. Ia bukan tokoh politik. Ia bukan aktivis yang berpidato di atas mobil komando.
Baca Juga: Ingat, 20 Juni Akan Ada Festival Wisata Kuliner Malam di Pecinan Glodok Jakarta Barat
Ia hanya rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Namun kematiannya mengubah arah sejarah.
Video tubuh Affan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam hanya dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di grup WhatsApp keluarga, di TikTok anak sekolah, di Instagram para pekerja muda, dan di linimasa para aktivis.
Dalam waktu yang sangat singkat, seorang anak muda yang sebelumnya tak dikenal berubah menjadi simbol nasional.
Dari Aceh sampai Papua, kemarahan bergerak lebih cepat daripada berita televisi.
Baca Juga: Diskusi Yang Menghadirkan Budiman Sudjatmiko di UGM Terhenti Setelah Digeruduk Mahasiswa
Demonstrasi meledak di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai. Sebagian berubah menjadi bentrokan.
Beberapa kantor pemerintah dibakar. Gedung DPRD di Makassar menjadi puing. Korban jiwa berjatuhan.
Banyak orang bertanya: mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara?
Pertanyaan itu membawa saya pada kebutuhan yang lebih besar.
Peristiwa Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya.
Artikel Terkait
Asisten Rumah Tangga Asal Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia
Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu
HIPMI Kota Bekasi Buka Jejaring Wirausaha Dengan Menyelenggarakan Turnamen Padel Padelora Fest
Israel Menganggap Tidak Terikat Oleh Perdamaian Iran-Amerika
Dua Terduga Pelaku Usaha Penculikan di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Ditangkap