Kerusuhan Agustus 2025 dan Terori Sosial Baru yang Menjelaskannya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 16 Juni 2026 | 08:08 WIB

Ketika rakyat merasa berhak mendapat sesuatu, namun gagal memperolehnya, muncullah frustrasi kolektif. Frustrasi ini dapat berubah menjadi kemarahan politik.

Teori ini sangat kuat menjelaskan Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, sampai berbagai pemberontakan abad ke-20. Ia membantu kita memahami mengapa masyarakat yang tidak paling miskin justru sering menjadi pelaku protes paling besar.

Namun teori ini lahir sebelum internet.

Ia tidak menjelaskan algoritma memperbesar kemarahan. Ia tidak menjelaskan video 30 detik bisa menjadi pemicu nasional.

Ia tidak mengenal kelas pekerja platform yang hidup di bawah kendali aplikasi digital. Teori ini menjelaskan api, tetapi belum menjelaskan angin digital yang membuat api menyebar ke seluruh negeri.

Teori kedua adalah Resource Mobilization Theory yang dikembangkan oleh McCarthy dan Zald.

Teori ini menyatakan bahwa gerakan sosial berhasil jika memiliki sumber daya yang cukup. Organisasi, dana, kepemimpinan, jaringan, dan kemampuan koordinasi menjadi faktor utama.

Teori ini sangat berpengaruh karena mengubah cara ilmuwan melihat aksi protes. Gerakan sosial tidak lagi dipahami sebagai ledakan emosi semata. Ia dipahami sebagai hasil kerja organisasi yang sistematis.

Tetapi teori ini juga memiliki keterbatasan.

Kerusuhan Agustus 2025 menunjukkan bahwa ribuan orang dapat bergerak tanpa organisasi formal. Mereka tidak memiliki kantor pusat. Mereka tidak memiliki ketua umum. Mereka tidak memiliki struktur hierarki yang jelas.

Namun mereka tetap mampu bergerak secara serentak.

Dalam dunia digital, jaringan sering kali lebih kuat daripada organisasi. Solidaritas dapat lahir dari grup Telegram, komunitas daring, atau sebuah tagar yang viral. Di sini teori mobilisasi sumber daya mulai kehilangan daya jelaskannya.

Teori ketiga adalah Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan oleh Manuel Castells dan Zeynep Tufekci.

Teori ini paling dekat dengan realitas abad ke-21.

Castells menunjukkan bagaimana internet menciptakan jaringan kemarahan dan harapan. Tufekci menjelaskan bagaimana media sosial memungkinkan mobilisasi cepat dalam skala besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB

Membaca Sumpah "Demi Allah" Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:41 WIB

Kisah 108 Solusi Presiden Prabowo Subianto

Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB
X