Kemarahan dapat menyebar melalui media sosial. Solidaritas dapat dibangun melalui komunikasi horizontal. Arab Spring, gerakan di Spanyol, Occupy Wall Street, dan berbagai mobilisasi digital lainnya menunjukkan bahwa kekuasaan komunikasi kini menjadi faktor politik yang sangat menentukan.
Castells memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang baru bagi pembentukan identitas kolektif.
Namun fokus utama buku ini berada pada jaringan komunikasi. Ia tidak terlalu menekankan kondisi ekonomi, kerentanan kelas pekerja digital, ataupun proses distorsi yang dilakukan provokator.
Oleh karena itu, teori jaringan Castells sangat kuat menjelaskan penyebaran protes, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa protes tertentu berubah menjadi kerusuhan yang destruktif.
Dengan demikian, kita berhadapan dengan lanskap teori yang kaya tetapi terfragmentasi. Masing-masing menawarkan lensa tajam, namun belum membentuk panorama utuh tentang bagaimana ekonomi, teknologi, dan emosi berinteraksi dalam kerusuhan digital kontemporer.
Di titik inilah saya menemukan kekosongan yang menarik. Teori lama menjelaskan sebagian peristiwa dengan baik, tetapi tak satu pun mampu menjelaskan keseluruhan rantai sebab-akibat yang terjadi pada Agustus 2025.
Yang hilang bukan sekadar satu variabel. Yang hilang adalah cara melihat hubungan antara ekonomi, algoritma, emosi, dan legitimasi negara sebagai satu sistem yang saling memperkuat.
Dari refleksi terhadap berbagai teori itu, saya mengajukan sebuah teori sosial baru.
Saya menyebutnya: Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama.
Variabel pertama adalah Economic Grievance atau keresahan ekonomi.
Setiap kerusuhan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar itu adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat. Harga pangan yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, dan masa depan yang terasa makin tidak pasti menciptakan akumulasi kemarahan.
Ekonomi bukan sekadar statistik. Ia adalah pengalaman sehari-hari di meja makan keluarga.
Variabel kedua adalah Digitally Vulnerable Class (DVC).
Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. Saya menyebutnya kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital.
Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Mereka menjadi subjek utama kerusuhan digital abad ke-21.
Variabel ketiga adalah Social Media Amplification.
Artikel Terkait
Asisten Rumah Tangga Asal Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia
Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu
HIPMI Kota Bekasi Buka Jejaring Wirausaha Dengan Menyelenggarakan Turnamen Padel Padelora Fest
Israel Menganggap Tidak Terikat Oleh Perdamaian Iran-Amerika
Dua Terduga Pelaku Usaha Penculikan di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Ditangkap