Kerusuhan Agustus 2025 dan Terori Sosial Baru yang Menjelaskannya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 16 Juni 2026 | 08:08 WIB

Baca Juga: Upaya Penculikan Seseorang di Perumahan Pantai Indah Kapuk Jakarta Dilatari Oleh Cinta Yang Tidak Direstui

Saya tumbuh dalam dunia yang mempercayai kekuatan data.

Sejak puluhan tahun lalu saya membaca survei, mempelajari perilaku pemilih, mengamati naik turunnya kepercayaan publik kepada negara.

Saya menyaksikan jatuhnya Orde Baru. Saya melihat reformasi melahirkan harapan baru.

Saya juga melihat media sosial perlahan mengubah perilaku masyarakat secara radikal.
Ketika saya membaca laporan-laporan lapangan tentang kerusuhan Agustus 2025, saya merasakan sesuatu yang berbeda.

Banyak teori lama mampu menjelaskan sebagian fakta. Namun tidak ada satu pun yang mampu menjelaskan keseluruhan fenomena.

Saya melihat sesuatu yang baru sedang lahir. Saya melihat kelas sosial baru. Saya melihat cara baru manusia marah.

Selama dua abad terakhir, teori sosial lahir ketika dunia berubah lebih cepat daripada bahasa yang tersedia untuk menjelaskannya.

Karl Marx membaca lahirnya pabrik. Durkheim membaca lahirnya masyarakat modern.
Kini kita hidup dalam dunia yang dikendalikan algoritma, namun masih memakai banyak konsep yang dilahirkan sebelum internet ditemukan.

Mungkin bukan masyarakatnya yang gagal dipahami. Mungkin teorinya yang sudah terlambat.

Saya melihat algoritma mengambil peran yang sebelumnya dimainkan oleh organisasi politik. Saya melihat notifikasi menggantikan pamflet revolusi.

Dan saya melihat bagaimana satu video berdurasi pendek dapat melakukan pekerjaan yang dulu membutuhkan bertahun-tahun organisasi gerakan sosial.

Oleh karena itu, saya merasa perlu mengajukan sebuah teori sosial baru.

Sebelum mengajukan teori baru, kita perlu memahami tiga teori besar yang selama ini menjadi fondasi ilmu sosial.

Teori pertama adalah Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr.
Dalam buku Why Men Rebel, Gurr menjelaskan bahwa pemberontakan tidak lahir dari kemiskinan semata. Pemberontakan lahir ketika terdapat jarak antara harapan dan kenyataan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB

Membaca Sumpah "Demi Allah" Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:41 WIB

Kisah 108 Solusi Presiden Prabowo Subianto

Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB

Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB
X