Ditangkapnya Pimpinan Badan Gizi Nasional dan Kesedihan Presiden Prabowo Subianto

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 4 Juni 2026 | 09:25 WIB

Setiap pengadaan diawasi. Setiap transaksi meninggalkan jejak digital. Setiap konflik kepentingan harus diumumkan. Setiap penggunaan uang publik dapat diperiksa. Mereka memahami satu prinsip sederhana. Kepercayaan publik tidak dibangun oleh pidato. Kepercayaan publik dibangun oleh sistem.

Oleh karena itu, pertanyaan terpenting setelah kasus ini bukanlah siapa yang ditangkap.

Korea Selatan membuktikannya lewat KONEPS, sistem pengadaan digital yang membuka setiap tender ke publik secara real time. Singapura menjaganya dengan CPIB, lembaga antikorupsi independen yang menjawab langsung kepada Perdana Menteri.

Konkretnya, Indonesia harus segera mengintegrasikan audit digital berbasis kecerdasan buatan pada ekosistem BGN, guna mendeteksi manipulasi harga dan konflik kepentingan pengadaan secara otomatis sebelum anggaran negara dicairkan.

Pertanyaan terpenting adalah: sistem apa yang harus dibangun agar kasus serupa tidak terjadi lagi?

Bangsa besar bukan diukur dari kemampuannya menghukum pelaku setelah kejahatan terjadi. Bangsa besar diukur dari kemampuannya mencegah kejahatan sebelum kerugian terjadi.

Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan ribuan pelaksana program MBG dalam forum “Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition” di Sentul.

Ironisnya, forum yang berbicara tentang masa depan gizi anak-anak Indonesia itu berlangsung di tengah guncangan besar yang sedang mengguncang BGN.

Dalam pidatonya, tersirat kesedihan yang mendalam. Ia mengakui harus mengganti orang-orang yang selama ini ia percaya dan ia sayangi untuk memimpin BGN.

Kesedihan itu mudah dipahami. Setiap pemimpin besar memerlukan orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan visi besarnya. Namun sejarah kekuasaan menunjukkan bahwa kepercayaan pribadi tidak pernah cukup.

Kepercayaan harus diperkuat oleh sistem. Karena manusia dapat berubah. Godaan dapat datang. Kekuasaan dapat mengaburkan penilaian. Tetapi sistem yang sehat tetap bekerja bahkan ketika manusia yang menjalankannya tidak sempurna.

Dalam banyak kasus sepanjang sejarah, kegagalan program bukan terjadi karena visinya salah. Kegagalan terjadi karena mekanisme pengawasan tidak cukup kuat untuk menjaga visi tersebut tetap berada di jalurnya.

Tanggal 23 Mei lalu, saya menerima telepon dari Presiden Prabowo Subianto. Ia mengapresiasi tulisan yang saya buat mengenai pidatonya di DPR pada 20 Mei 2026.

Dalam esai itu, dan kembali saya sampaikan dalam percakapan tersebut, saya mengatakan bahwa gagasan Prabowo mengenai negara yang lebih aktif mendorong sektor-sektor strategis ekonomi adalah gagasan yang besar dan berani.

Namun sejarah pembangunan di banyak negara mengajarkan satu hal yang sangat penting. Gagasan besar tidak pernah cukup. Yang menentukan keberhasilan sebuah visi adalah kualitas institusi yang menjalankannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:40 WIB

Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious

Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:04 WIB
X