Dua Kali Adil

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Mereka tampaknya memahami bahwa musuh terbesar sebuah bangsa bukanlah kemiskinan, bukan pula perbedaan, melainkan hilangnya kepercayaan bahwa permainan ini masih berlangsung dengan aturan yang sama untuk semua orang.

Bangsa tidak runtuh karena kekurangan slogan. Bangsa runtuh ketika rakyat mulai percaya bahwa timbangan selalu dimiringkan sebelum pertandingan dimulai.

Dengan demikian, setiap 1 Juni, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita masih hafal lima sila. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih berusaha membuat kata "adil" berhenti menjadi pigura di dinding kantor, berhenti menjadi ukiran di podium pidato, lalu turun ke jalan, masuk ke ruang sidang, ke pasar, ke sekolah, ke sawah, ke pelabuhan, dan benar-benar hidup di tengah manusia?

Sebab dari 29 kata Pancasila, hanya satu akar kata yang mendapat kehormatan muncul dua kali. Dan mungkin itu bukan kebetulan. Itu peringatan.

Ia adalah lampu mercusuar yang terus berkedip dari kejauhan, mengingatkan bahwa kapal bernama Indonesia belum sepenuhnya tiba di pelabuhan yang dicita-citakan para pendirinya.***

*Ahmadie Thaha ialah kolumnis

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X