Oleh Rosadi Jamani*
WartaPesona.com - Harga sawit jatuh ke sejatuh-jatuhnya, ada cuma Rp600 per kilogram.
Di Sumatra Barat, kabar itu datang seperti petir yang menyambar pohon yang sudah terbakar.
Ketika pemerintah pusat mengumumkan rencana ekspor CPO satu pintu, para petani sawit rakyat langsung merasakan efeknya. Bukan efek kemakmuran. Bukan efek kepastian usaha. Yang datang justru angka-angka yang membuat jantung petani berdebar tidak karuan.
Baca Juga: Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat
Menurut Ketua Apkasindo Sumatra Barat, Jufri Nur, harga sawit rakyat di berbagai daerah anjlok sampai Rp600 dan Rp1.200 per kilogram. Angka yang begitu rendah hingga terdengar seperti salah ketik. Padahal pada saat yang sama harga TBS plasma di pekan terakhir Mei 2026 masih sekitar Rp4.000 per kilogram.
Uda/uni bayangkan itu. Petani bangun sebelum matahari terbit. Mereka membeli pupuk non-subsidi yang harganya sering membuat isi rekening tampak seperti korban bencana alam.
Mereka merawat pohon selama bertahun-tahun. Mereka mengangkut tandan yang beratnya puluhan kilogram di bawah terik matahari. Lalu hasil kerja keras itu dihargai Rp600 per kilogram.
Seolah-olah negeri ini sedang mengadakan kompetisi nasional mencari cara tercepat membuat petani kehilangan semangat.
Baca Juga: Persib Bandung dan Borneo FC Wakili Indonesia di Turnamen ASEAN Club Championship 2026/2027
Yang paling menyakitkan adalah ketidakpastian. Jufri Nur menegaskan, kebijakan Presiden Prabowo Subianto sebenarnya baik. Masalahnya, petunjuk teknisnya belum jelas.
Satu pintu itu apa? Administrasi? Penjualan? Jalur ekspor? Tidak ada yang benar-benar tahu.
Di atas, orang-orang berbicara tentang tata kelola. Di bawah, petani berbicara tentang cara membayar pupuk bulan depan.
Di Kabupaten Pesisir Selatan, harga Rp600 per kilogram menjadi semacam monumen kesedihan.
Artikel Terkait
Hilirisasi Sawit Indonesia: Dari Devisa Hingga Masa Depan Berkelanjutan
Kemenhut Bersihkan TN Gunung Leuser dari Ratusan Hektare Sawit Ilegal
Truk Sawit Masih Lalu Lalang di Tengah Derita Pascabencana Aceh, WALHI Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan Perusak Hutan
Darurat Air Bersih, Warga Aceh Tamiang Bertahan 15 Hari Gunakan Air Hijau Bekas Pabrik Sawit
Mengenal Luke Thomas Mahony, Warga Australia Yang Ditunjuk Menangani Ekspor Sawit