Dua Kali Adil

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Yang satu adalah kompas. Yang satu adalah tujuan perjalanan.

Pendiri bangsa rupanya tidak sedang bermain teka-teki silang. Mereka sedang menyelipkan pesan dalam botol dan melemparkannya ke lautan masa depan. Pesan itu akhirnya terdampar di pantai generasi kita.

Bangsa ini tidak cukup hanya memiliki orang baik. Bangsa ini juga harus memiliki sistem yang baik, karena manusia bisa adil, tetapi negara belum tentu adil.

Sebaliknya, negara bisa memiliki undang-undang yang tampak adil, lengkap dengan pasal-pasal yang tersusun rapi seperti etalase toko mewah. Tapi, pelaksanaannya tak jarang dijalankan oleh manusia yang memperlakukan hukum seperti menu restoran: memilih yang disukai dan meninggalkan yang tidak menguntungkan.

Oleh karena itu, adil muncul dua kali. Seolah para pendiri bangsa sedang berkata, "Jangan cuma memperbaiki orangnya. Perbaiki juga rumah tempat orang itu tinggal."

Manusia saleh yang hidup dalam sistem rusak sering berakhir seperti ikan bersih yang dilempar ke kolam berlumpur.

Sayangnya, perjalanan sejarah Indonesia sering terlihat seperti lomba lari estafet yang tongkatnya bernama keadilan, tetapi sebagian pelari malah sibuk membawa pulang tongkatnya ke rumah, memajangnya di ruang tamu, lalu mengklaim dirinya juara.

Kita mempunyai sila kedua yang berbicara tentang manusia yang adil dan beradab. Namun, setiap tahun masih muncul kasus perundungan, kekerasan terhadap anak, perdagangan manusia, pelecehan, eksploitasi pekerja migran, dan berbagai bentuk penghinaan terhadap martabat manusia.

Di media sosial, manusia kadang berubah menjadi makhluk yang lebih ganas daripada harimau. Harimau setidaknya hanya memangsa ketika lapar. Sebagian warganet memangsa setiap hari meski sudah kenyang. Mereka berburu bukan untuk bertahan hidup, melainkan untuk menghibur algoritma.

Lalu kita memiliki sila kelima tentang keadilan sosial. Di sinilah novel panjang bangsa ini dimulai, yang kalau ditulis bisa berjilid-jilid.

Ada petani yang menanam padi tetapi keuntungan panennya lebih sering mampir ke meja orang lain. Ada nelayan yang tinggal di tepi samudra tetapi kadang lebih akrab dengan utang daripada dengan hasil tangkapannya.

Ada guru honorer yang setiap hari menyalakan lilin pengetahuan untuk generasi muda, sedangkan dompetnya sendiri berkedip-kedip seperti lampu darurat yang hampir kehabisan baterai.

Ada anak-anak di daerah terpencil yang pergi ke sekolah dengan perjuangan yang lebih heroik daripada sebagian perjalanan dinas para pejabat.

Ada jalan tol yang mulus seperti kaca cermin, sedangkan ada jalan desa yang membuat kendaraan berguncang seperti sedang mengikuti latihan pencak silat.

Ada gedung-gedung yang menjulang tinggi seperti sedang berlomba menyentuh awan, sedangkan di bawah bayangannya masih ada rumah-rumah yang berjuang menyentuh kabel listrik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X