Oleh karena itu, yang perlu dibenahi bukan agamanya, tetapi kualitas keberagamaan dan kualitas negara.
Agama harus turun dari mimbar ke pelayanan publik. Dari ceramah ke perilaku. Dari simbol ke sistem. Dari kesalehan individual ke kesalehan sosial.
Oleh karena itu, buat Indonesia, jika ingin menjadi negara yang bahagia, kuncinya bukan harus menjadi Nordik, bukan pula meninggalkan agama. Kuncinya adalah membuat agama lebih membumi.
Agama yang mampu menjadi etika birokrasi, etika bisnis, etika politik, etika pendidikan, etika lingkungan, dan etika hidup sehari-hari.
Agama tidak boleh berhenti sebagai pakaian identitas. Ia harus menjadi energi sosial yang memberi efek rahmatan lil alamin. Khoirunnas anfa uhum Linnas. Manusia yang memberi manfaat buat sebanyak-banyak orang.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel Terkait
Megawati Terima Kunjungan Duta Besar Kuwait Khalid Jassim Al-Yasin: Bahas Konflik Timur Tengah
Kementerian Kebudayaan Salurkan Lebih Dari Rp9 miliar Untuk Membantu Cagar Budaya dan Masyarakat Kebudayaan
Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Hari Kebangkitan Nasional Ditandai Dengan Tentara Menjadi Petani