Hari Kebangkitan Nasional Ditandai Dengan Tentara Menjadi Petani

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 21 Mei 2026 | 10:16 WIB
Ilustrasi. (Rosadi Jamani)
Ilustrasi. (Rosadi Jamani)

Oleh Rosadi Jamani*

ORBITBARU.COM - Hari Kebangkitan Nasional tahun ini benar-benar terasa berbeda. Sangat berbeda. Terlalu berbeda malah. Tentara berubah fungsi menjadi petani.

Kok, bisa?

Biasanya setiap 20 Mei rakyat mendengar pidato penuh semangat tentang persatuan, perjuangan, nasionalisme, dan cita-cita para pendiri bangsa. Lagu perjuangan diputar. Bendera berkibar. Kata “bangkit” diucapkan berkali-kali sampai sound system kecapekan.

Tetapi tahun ini, kebangkitan nasional terasa naik tingkat. Bangkit bukan lagi sekadar melawan penjajah. Bangkit sekarang berarti, tentara ikut nanam jagung.

Itu bukan lelucon warung kopi.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dengan wajah serius mengumumkan di depan Komisi I DPR bahwa TNI Angkatan Darat ikut fokus mengurus padi dan jagung. TNI Angkatan Laut kebagian kedelai demi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Di titik inilah rakyat mulai bingung. Ini rapat pertahanan negara atau briefing kelompok tani sekecamatan?

Hari Kebangkitan Nasional mendadak berubah aura. Dulu Bung Tomo teriak “Merdeka atau mati!” Sekarang semangatnya perlahan bergeser jadi “Merdeka atau panen dulu!”

Dulu bambu runcing melawan penjajah. Kini cangkul loreng melawan inflasi pangan.

Indonesia memang tidak pernah gagal menciptakan plot twist.

Nuan bayangkan suasananya. Prajurit yang dulu latihan perang di hutan kini mungkin latihan membedakan pupuk organik dan pupuk subsidi. Tank Leopard pelan-pelan terasa lebih cocok parkir di sawah ketimbang di lapangan tempur. Senapan laras panjang mungkin sebentar lagi punya fungsi tambahan untuk ngusir burung pipit. Kalau ada musuh datang menyerang, bisa-bisa mereka disambut tulisan besar di gerbang markas, "Mohon tenang. Prajurit sedang panen raya.”

Yang lebih luar biasa lagi adalah suasana DPR. Biasanya ruang sidang itu ribut seperti pasar cabai menjelang Lebaran. Sedikit-sedikit interupsi. Sedikit-sedikit gebrak meja. Tapi saat mendengar tentara ikut bertani, semua justru tenang. Hening. Damai. Mengangguk perlahan seperti baru mendapat pencerahan dari dewa ketahanan pangan Nusantara.

Mungkin dalam hati mereka berkata, “Tidak apa-apa. Negara lain punya misil hipersonik. Kita punya jagung strategis nasional.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X