Baca Juga: Hukum Alam Kejatuhan Pemimpin, Belajar Dari Nero Sampai Marcos
Sedangkan "subtansi agama" yang salah satunya tercermin dalam hablum minannas itu justru dipraktikan di negara-negara Nordik, tanpa terlalu ramai membawa label agama.
Mereka membangun kepercayaan sosial, jaminan kesehatan, pendidikan bermutu, perlindungan sosial, kesetaraan, dan negara yang relatif bersih.
Mereka memang tidak selalu tampak religius secara formal, tetapi kehidupan sosialnya menghadirkan banyak nilai yang dalam agama disebut amanah, keadilan, rahmah, kasih, pelayanan, dan tanggung jawab kolektif.
Sebaliknya, Indonesia sering kali sangat religius dalam ekspresi, tetapi belum selalu religius dalam perilaku sosial.
Kita rajin berdoa, tetapi masih mudah curiga. Kita banyak rumah ibadah, tetapi korupsi tetap tinggi. Kita sering bicara akhlak, tetapi ruang publik penuh caci maki. Kita fasih menyebut surga, tetapi abai pada penderitaan tetangga.
Dalam konteks ini, saya tidak sedang mengeritik agama. Ini kritik terhadap religiusitas formatistik, yaitu agama yang kuat di ritual, tetapi lemah di konsekuensi sosial.
Pew Research Center pernah menemukan bahwa orang yang aktif dalam komunitas agama cenderung lebih bahagia dan lebih terlibat secara sosial di banyak negara.
Tetapi, temuan itu penting dibaca dengan benar, bahwa yang membuat agama berkontribusi pada kebahagiaan bukan sekadar identitas formal, melainkan keterlibatan dalam komunitas, dukungan sosial, makna hidup, dan perilaku prososial.
Dengan kata lain, agama bisa menjadi sumber bahagia bila ia menjadi jembatan sosial. Tetapi agama bisa menjadi beban bila ia berubah menjadi tekanan sosial, alat menghakimi, simbol status moral, atau arena kompetisi kesalehan.
Dalam Islam, agama bahkan disebut sebagai rahmat. Dalam Kristen, kasih menjadi inti iman. Dalam Hindu dan Buddha, harmoni, dharma, welas asih, dan pengendalian diri menjadi jalan pembebasan batin.
Di Indonesia, agama sering sangat kuat pada dimensi vertikal, yaitu: hubungan manusia dengan Tuhan. Tetapi kebahagiaan sosial membutuhkan dimensi horizontal: hubungan manusia dengan manusia.
Salat, misa, sembahyang, puja, dan meditasi akan kehilangan daya transformasinya bila tidak melahirkan kejujuran, disiplin, kasih sayang, kebersihan, ketertiban, penghormatan pada hak orang lain, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Masalahnya, bukan karena azan yang terlalu sering. Tetapi, karena suara azan yang belum berhasil diterjemahkan menjadi suara keadilan.
Masalahnya bukan masjid, gereja, pura, dan vihara yang ramai. Tetapi, keramaian rumah ibadah belum otomatis membuat pasar lebih jujur, birokrasi lebih bersih, jalan raya lebih tertib, dan orang miskin lebih terlindungi.
Artikel Terkait
Megawati Terima Kunjungan Duta Besar Kuwait Khalid Jassim Al-Yasin: Bahas Konflik Timur Tengah
Kementerian Kebudayaan Salurkan Lebih Dari Rp9 miliar Untuk Membantu Cagar Budaya dan Masyarakat Kebudayaan
Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Hari Kebangkitan Nasional Ditandai Dengan Tentara Menjadi Petani