Hukum Alam Kejatuhan Pemimpin, Belajar Dari Nero Sampai Marcos

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 21 Mei 2026 | 12:56 WIB
Toto Izul Fatah
Toto Izul Fatah

Baca Juga: Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda

Pada akhirnya, ketika Senat menyatakannya sebagai musuh publik, Nero bunuh diri pada 68 masehi. Ia tampak besar, tetapi berakhir dalam kesendirian dan kepanikan.

Pola yang kurang lebih sama muncul dalam bentuk berbeda. Louis XVI di Prancis mungkin bukan diktator modern dalam arti kasar, tetapi ia berdiri di puncak sistem monarki yang beku, penuh privilese, dan terlalu jauh dari penderitaan rakyat.

Ketika krisis sosial-ekonomi membesar dan reformasi terlambat, monarki Bourbon kehilangan legitimasi. Lalu, Monarki dihapus pada 1792, dan Louis XVI kemudian dihukum mati.

Pelajarannya jelas: seorang pemimpin jatuh karena gagal membaca kenyataan dengan mempertahankan sistem yang angkuh.

Baca Juga: Kementerian Kebudayaan Salurkan Lebih Dari Rp9 miliar Untuk Membantu Cagar Budaya dan Masyarakat Kebudayaan

Bahkan, jauh sebelum masehi, sejarah juga mencatat tentang kejatuhan Sennacherib (Assyiria, wafat 681 SM),  Cambyses II (Persia, wafat 522 SM),  Xerxes I (Persia, abad ke-5 SM), Belshazzar (Babylon, wafat sekitar 539 SM), Tarquin The Proud ( 509 SM), dan Midas (abad ke-8 SM). Mereka semua jatuh dengan faktor yang sama;  kesombongan, kesewenang-wenangan, anti kritik dan kekejaman.

Kasus dengan pola yang sama, juga terjadi di era modern. Tepatnya, di wilayah Asia Tenggara. Kita masih ingat ada nama besar dan terkenal di Filipina, Ferdinand Marcos.

Tahun-tahun akhir kekuasaannya, ditandai oleh korupsi pemerintah yang merajalela, stagnasi ekonomi, dan ketimpangan yang makin lebar. Rezim yang pada awalnya tampak kuat itu akhirnya ditelan krisis legitimasi, lalu digulung oleh gerakan People Power pada 1986.

Lalu,  ada juga Nicolae Ceaușescu di Rumania, salah satu contoh paling telanjang tentang penguasa yang dirusak oleh kultus diri. Ia membangun cult of personality yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Rumania, menjadi fondasi dari sebuah diktatur “yang nyaris tak mengenal batas.”

Begitu gelombang revolusi 1989 meledak, Ceaușescu tumbang cepat dan dieksekusi. Ia jatuh bukan semata karena rakyat marah, tetapi karena kekuasaannya terlalu lama menolak koreksi.

Contoh lain yang cukup brutal terjadi pada pemimpin Libya, Muammar al-Qaddafi.  Ia memerintah lebih dari empat dekade, membangun kekuasaan yang sangat terpusat pada dirinya.

Tetapi pada 2011, pemberontakan terhadap rezimnya berkembang menjadi perang saudara dan intervensi internasional. Ia digulingkan pada tahun itu dan kemudian dibunuh oleh pasukan pemberontak pada Oktober 2011.

Apa pesan yang dapat kita ambil dari kasus kejatuhan Nero sampai Marcos, dari Ceaușescu hingga Qaddafi?

Yang pasti, di situ ada benang merah yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X