Pertama, kesombongan melahirkan seorang pemimpin merasa dirinya pusat kebenaran.
Kedua, kekuasaan yang tak terkontrol menutup pintu kritik. Ketiga, kezaliman yang menggerogoti legitimasi. Keempat, krisis yang semula kecil menumpuk menjadi ledakan besar.
Oleh karena itu, menurut saya, kejatuhan pemimpin lalim memang lebih tepat disebut sebagai hukum alam sejarah. Bukan “hukum alam” dalam arti fisika yang bekerja otomatis tanpa jeda, melainkan hukum sebab-akibat moral, psikologis, dan sosial yang hampir selalu berulang.
Belajar dari Nero hingga Marcos, kita sampai pada satu kesimpulan penting: pemimpin tidak jatuh hanya karena diserang musuh, tetapi terutama karena kalah melawan penyakit dalam dirinya sendiri.
Sekarang, silakan para pemimpin yang sedang berkuasa di mana saja untuk memilih, mau berakhir husnul khotimah, atau suul khotimah.
Biarkan sejarah yang nanti akan mencatat.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel Terkait
Kementerian Kebudayaan Salurkan Lebih Dari Rp9 miliar Untuk Membantu Cagar Budaya dan Masyarakat Kebudayaan
Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda
Cristiano Ronaldo Jadi Kapten Timnas Portugal di Piala Dunia 2026
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Hari Kebangkitan Nasional Ditandai Dengan Tentara Menjadi Petani