Hukum Alam Kejatuhan Pemimpin, Belajar Dari Nero Sampai Marcos

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 21 Mei 2026 | 12:56 WIB
Toto Izul Fatah
Toto Izul Fatah

Pertama, kesombongan melahirkan seorang pemimpin merasa dirinya pusat kebenaran.

Kedua, kekuasaan yang tak terkontrol menutup pintu kritik. Ketiga, kezaliman yang menggerogoti legitimasi. Keempat, krisis yang semula kecil menumpuk menjadi ledakan besar.

Oleh karena itu, menurut saya, kejatuhan pemimpin lalim memang lebih tepat disebut sebagai hukum alam sejarah. Bukan “hukum alam” dalam arti fisika yang bekerja otomatis tanpa jeda, melainkan hukum sebab-akibat moral, psikologis, dan sosial yang hampir selalu berulang.

Belajar dari Nero hingga Marcos, kita sampai pada satu kesimpulan penting: pemimpin tidak jatuh hanya karena diserang musuh, tetapi terutama karena kalah melawan penyakit dalam dirinya sendiri.

Sekarang, silakan para pemimpin yang sedang berkuasa di mana saja untuk memilih, mau berakhir husnul khotimah, atau suul khotimah.

Biarkan sejarah yang nanti akan mencatat.***

*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X