opini

Kerusuhan Agustus 2025 dan Terori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:08 WIB

Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Ia mempercepat solidaritas sekaligus memperbesar kepanikan.
Di era digital, notifikasi dapat menggantikan pamflet revolusi.

Variabel keempat adalah Trigger and Provocation.

Kemarahan memerlukan simbol. Dalam kasus Agustus 2025, Affan Kurniawan menjadi simbol itu. Setelah pemicu muncul, provokator dan disinformasi dapat membelokkan protes damai menjadi kerusuhan.

Teori ini membedakan secara tegas antara akar masalah, pemicu, dan distorsi.
Variabel kelima adalah Broken Social Contract.

Kerusuhan meledak ketika rakyat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasarnya. Negara dianggap gagal melindungi, gagal memberi keadilan, gagal membuka peluang, dan gagal mendengar suara masyarakat. Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya.
Mengapa teori ini lebih kuat? Karena teori ini bersifat integratif.

Teori Relative Deprivation menjelaskan rasa tidak adil. Resource Mobilization menjelaskan organisasi. Networked Protest menjelaskan jaringan digital.

Masing-masing benar. Namun masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar.

Teori Kerusuhan Era Digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren.

Ia menjelaskan akar ekonomi yang menciptakan kemarahan. Ia mengidentifikasi lahirnya kelas rentan digital sebagai aktor baru sejarah.

Ia menjelaskan peran media sosial sebagai mesin amplifikasi emosi. Ia membedakan pemicu dari akar masalah.

Ia menjelaskan bagaimana provokasi mengubah arah gerakan. Dan yang terpenting, ia menawarkan dimensi normatif berupa kebutuhan membangun kembali kontrak sosial yang rusak.

Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar.

Ia tidak hanya menjelaskan siapa yang marah. Ia juga menjelaskan mengapa mereka marah. Ia tidak hanya menjelaskan ledakan. Ia juga menunjukkan jalan keluar. Dalam rumusan singkat: Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.

Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.

Sedikit perlu catatan. Ada pula isu lain memperkaya teori ini. Yaitu Digital State Counter-Response. Di era ini, negara tidak pasif; mereka menggunakan cyber troops dan sensor algoritma untuk meredam kerusuhan.

Halaman:

Tags

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB