Ilmu menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi. Makna menjelaskan mengapa sesuatu menyentuh hati manusia.
Ada orang-orang yang akan menolak seluruh renungan di atas.
Mereka berkata bahwa semua ini hanyalah kebetulan statistik. Dari miliaran manusia dan jutaan foto yang diambil setiap tahun, sangat mungkin muncul satu kisah yang tampak luar biasa.
Tidak ada alasan untuk membawa konsep takdir ke dalamnya. Yang bekerja hanyalah hukum probabilitas.
Pandangan itu layak dihormati.
Memang benar, sains tidak menemukan bukti bahwa foto tersebut merupakan tanda gaib. Tidak ada eksperimen ilmiah yang mampu membuktikan bahwa Messi ditakdirkan memandikan penerus simboliknya.
Seluruh fakta dapat dijelaskan melalui rangkaian sebab-akibat yang rasional.
Namun di sinilah letak perbedaannya.
Esai ini tidak berusaha membuktikan keberadaan takdir melalui foto tersebut. Esai ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih dalam.
Mengapa manusia, dari zaman Yunani hingga era kecerdasan buatan, selalu terdorong mencari makna di balik kebetulan?
Karena manusia bukan hanya makhluk biologis. Manusia juga makhluk yang hidup melalui cerita.
Sejarah dibangun bukan hanya oleh data, tetapi juga oleh narasi yang memberi arah kepada data itu.
Bangsa-bangsa bertahan bukan semata-mata karena ekonomi. Mereka bertahan karena memiliki kisah bersama.
Keluarga tidak dipersatukan hanya oleh hubungan darah. Mereka dipersatukan oleh kenangan yang dimaknai bersama.
Foto Messi dan Yamal menjadi kuat bukan karena ia membuktikan ada takdir. Foto itu menjadi kuat karena mengingatkan kita bahwa hidup selalu lebih besar daripada kemampuan kita menjelaskannya.
Artikel Terkait
Pemain Sepak Bola Eropa Timur Makin Berebut Berkarier di Liga Indonesia
Argentina Tajam di Depan, Spanyol Kuat di Belakang
Pak Polisi! Penjambret Berkeliaran di Jalan HR Rasuna Said Jakarta yang Sudah Berwajah Baru
Iran Meminta Houthi di Yaman Agar Menutup Laut Merah Jika Amerika Menyerang Pembangkit Listrik
Eks Pemain Timnas Korea Selatan Kwon Chang-hoon Perkuat Persija Jakarta