Baca Juga: Piala Dunia 2026: Maroko ke Perempatfinal Setelah Menyingkirkan Kanada
Ini menjadi bukti bahwa Tatar Sunda bukan hanya romantisme masa lalu, melainkan bisa menjadi energi baru pembangunan masa depan.
Lebih dari itu, pergantian nama ini penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Sunda yang selama ini menjadi fondasi sosial masyarakat.
Nilai “silih asah, silih asih, silih asuh” bukan sekadar ungkapan indah. Ia adalah etika sosial untuk saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing.
Dalam situasi bangsa yang sering keras, saling curiga, dan mudah terbelah, nilai Sunda seperti ini justru sangat relevan untuk ditawarkan kembali sebagai energi kebangsaan.
Tatar Sunda juga membawa spirit gotong royong. Dalam tradisi Sunda, hidup tidak boleh hanya mengejar diri sendiri. Ada lembur yang harus dijaga, ada tatangga yang harus diperhatikan, ada kesantunan dan ada alam yang tidak boleh dirusak.
Itulah makna someah hade ka semah, cageur, bageur, bener, pinter, singer. Nilai-nilai seperti ini adalah modal moral yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan modern.
Tentu, perubahan nama harus dilakukan dengan hati-hati, inklusif, dan tidak menyinggung warga non-Sunda yang juga menjadi bagian sah dari wilayah ini.
Tatar Sunda tidak boleh dipahami sebagai pengusiran identitas lain.
Tatar Sunda harus menjadi rumah besar. Yaitu, rumah bagi Sunda, Cirebon, Betawi pinggiran, Jawa, Minang, Batak, Tionghoa, dan semua warga yang hidup, bekerja, mencintai, dan membangun wilayah ini.
Tatar Sunda juga harus menjadi identitas kultural yang merangkul, bukan menyingkirkan. Ia harus menjadi payung nilai, bukan alat eksklusivisme. Sebab, sejarah Sunda yang agung adalah sejarah yang mengajarkan harmoni, bukan dominasi.
Oleh karena itu, mengganti Jawa Barat menjadi Tatar Sunda adalah langkah simbolik yang sangat penting. Nama adalah doa. Nama adalah arah. Nama adalah identitas. Jika nama sebuah wilayah hanya menunjuk arah mata angin, yang hidup hanya koordinat geografisnya.
Tetapi jika nama itu menunjuk akar sejarah dan nilai peradaban, yang hidup adalah jiwanya.
Dengan nama Tatar Sunda, kita sedang mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari kebudayaannya.
Dengan begitu, dukungan terhadap perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda adalah dukungan terhadap kebangkitan jati diri. Ini adalah dukungan untuk memuliakan sejarah, menghidupkan nilai, dan memberi arah baru bagi pembangunan daerah.
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Argentina Menantang Mesir
Piala Dunia 2026: Kolombia Tantang Swiss
Inilah Jadwal Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Lebih Dari Sekadar Sebuah Ruang: Curated living hadir di ASHTA District 8
Persib Bandung Ikat Kontrak Pemain Timnas Indonesia Ragnar Oratmangoen Sampai 2029