Provinsi (Tatar) Sunda: Mengembalikan Jawa Barat ke Sejarahnya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Minggu, 5 Juli 2026 | 14:20 WIB

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Maroko ke Perempatfinal Setelah Menyingkirkan Kanada

Ini menjadi bukti bahwa Tatar Sunda bukan hanya romantisme masa lalu, melainkan bisa menjadi energi baru pembangunan masa depan.

Lebih dari itu, pergantian nama ini penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Sunda yang selama ini menjadi fondasi sosial masyarakat.

Nilai “silih asah, silih asih, silih asuh” bukan sekadar ungkapan indah. Ia adalah etika sosial untuk saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing.

Dalam situasi bangsa yang sering keras, saling curiga, dan mudah terbelah, nilai Sunda seperti ini justru sangat relevan untuk ditawarkan kembali sebagai energi kebangsaan.

Tatar Sunda juga membawa spirit gotong royong. Dalam tradisi Sunda, hidup tidak boleh hanya mengejar diri sendiri. Ada lembur yang harus dijaga, ada tatangga yang harus diperhatikan, ada kesantunan dan ada alam yang tidak boleh dirusak.

Itulah makna someah hade ka semah, cageur, bageur, bener, pinter, singer. Nilai-nilai seperti ini adalah modal moral yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan modern.

Tentu, perubahan nama harus dilakukan dengan hati-hati, inklusif, dan tidak menyinggung warga non-Sunda yang juga menjadi bagian sah dari wilayah ini.

Tatar Sunda tidak boleh dipahami sebagai pengusiran identitas lain.

Tatar Sunda harus menjadi rumah besar. Yaitu, rumah bagi Sunda, Cirebon, Betawi pinggiran, Jawa, Minang, Batak, Tionghoa, dan semua warga yang hidup, bekerja, mencintai, dan membangun wilayah ini.

Tatar Sunda juga harus menjadi identitas kultural yang merangkul, bukan menyingkirkan. Ia harus menjadi payung nilai, bukan alat eksklusivisme. Sebab, sejarah Sunda yang agung adalah sejarah yang mengajarkan harmoni, bukan dominasi.

Oleh karena itu, mengganti Jawa Barat menjadi Tatar Sunda adalah langkah simbolik yang sangat penting. Nama adalah doa. Nama adalah arah. Nama adalah identitas. Jika nama sebuah wilayah hanya menunjuk arah mata angin, yang hidup hanya koordinat geografisnya.

Tetapi jika nama itu menunjuk akar sejarah dan nilai peradaban, yang hidup adalah jiwanya.

Dengan nama Tatar Sunda, kita sedang mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari kebudayaannya.

Dengan begitu, dukungan terhadap perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda adalah dukungan terhadap kebangkitan jati diri. Ini adalah dukungan untuk memuliakan sejarah, menghidupkan nilai, dan memberi arah baru bagi pembangunan daerah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB
X