Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Saya ingin memulai dengan sebuah ungkapan yang berpesan sangat kuat dalam ingatan kolektif kita sebagai umat beragama.
Usaha tanpa doa tidak sempurna. Berdoa tanpa usaha sia-sia.
Dalam konteks ini, doa pertama yang mungkin layak kita panjatkan dengan segala kerendahan hati adalah: "Ya... Allah, kami tak sanggup memikul beban ini tanpa rida dan pertolongan-Mu."
Baca Juga: Ketika Perang Iran Melawan Amerika dan Israel Berakhir Dengan Transaksi
Presidenku yang terhormat. Ada waktunya kritik tidak harus selalu datang dengan suara keras. Ada waktunya kecintaan kepada bangsa tidak selalu harus dinyatakan dalam bentuk kemarahan.
Dan ada waktunya pula, doa menjadi bahasa paling jujur dari rakyat kepada pemimpinnya.
Presidenku, ada kalanya jalan keluar dari krisis bangsa ini tak hanya datang dari rapat kabinet dengan sederet angka-angka statistik. Tetapi, ada kalanya jalan keluar itu datang dari doa yang tulus, taubat yang sungguh-sungguh, dan keberanian moral untuk memperbaiki kesalahan.
Presidenku, di tengah suasana kebangsaan yang tidak mudah, saya percaya Presidenku telah bekerja keras.
Baca Juga: Ketika Dunia Mencari Tempat Berlindung, Indonesia Harus Menjadi Jangkar
Negeri ini tidak sedang berada di ruang kosong.
Ada tantangan ekonomi global, tekanan geopolitik, harga-harga yang bergerak naik, pengangguran, daya beli rakyat, korupsi, hingga keresahan sosial, yang semuanya menjadi beban besar Presidenku.
Oleh karena itu, saya tidak ingin melihat Presidenku semata dari sudut kritik. Saya juga ingin melihatnya dari sisi niat baik, ketulusan, dan ikhtiar besar yang sedang dibangun.
Saya bisa memahami mengapa Presidenku membuat program-program besar seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan, Sekolah Rakyat.
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Portugal Ditahan Kongo
Daya Magis Bang Dodo Belum Aktif, Portugal Ditahan Kongo
Koboi Kalah Perang
Forum Wartawan Kebangsaan Desak Kapolri Kembalikan Rasa Aman
Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya