Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Oleh Toto Izul Fatah*

WartaPesona.com - Lagu berjudul Urang Sunda yang populer dinyanyikan Doel Sumbang beberapa tahun lalu, terasa makin relevan untuk memberikan gambaran nasib orang Sunda hari ini.

Pada bagian pembukanya, lirik lagu itu seperti melontarkan pertanyaan yang pahit: Kamarana urang Sunda (pada kemana urang Sunda).

Disebut aya, da euweuh (disebut ada, tetapi tak ada). Disebut euweuh, da aya (disebut tak ada, tetapi ada). Itulah potret Sunda hari ini.

Baca Juga: Forum Wartawan Kebangsaan Desak Kapolri Kembalikan Rasa Aman

Secara jumlah, ia memang masih besar. Secara demografis, ia juga tetap nyata. Begitu juga secara budaya, namanya masih disebut. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dalam etika, dalam watak, dalam laku sosial, Sunda terasa seperti hadir setengah badan. Ia ada lebih sebagai angka, tetapi makin samar sebagai jiwa.

Di situlah ironi terbesar orang Sunda. Di atas kertas, Sunda masih kukuh. Data Sensus Penduduk 2010 menempatkan suku Sunda sebagai kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia, sekitar 36,7 juta jiwa atau 15,5 persen dari total penduduk nasional.

Di Jawa Barat sendiri, jumlah orang yang teridentifikasi sebagai Sunda mencapai sekitar 30,8 juta jiwa.

Penduduk Jawa Barat sebagai ruang utama kebudayaan Sunda terus bertambah dan sekarang telah menembus puluhan juta jiwa.

Baca Juga: Koboi Kalah Perang

Artinya, secara angka, Sunda bukan kelompok kecil. Sunda bukan suku yang tersisih ke pinggir sejarah. Sunda tetap besar, tetap padat, tetap hidup dalam statistik.

Tetapi justru di situlah persoalannya: mengapa ketika tubuh demografinya membesar, ruh etik dan budayanya justru terasa menipis?

Padahal, Sunda itu sebenarnya tata rasa. Sunda adalah cara bertutur. Sunda adalah cara menghormati orang tua, memperlakukan sesama, menjaga batas, merawat harmoni, dan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang rakus atas alam. Bila semua itu melemah, maka Sunda bisa saja tetap besar di sensus, tetapi mengecil dalam makna.

Di sinilah lirik Doel Sumbang itu terasa seperti diagnosis kultural. Orang Sunda hari ini memang seperti sedang berada dalam wilayah antara, yaitu antara ada dan tiada, antara bangga dan lupa, antara simbol dan isi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB

Membaca Sumpah "Demi Allah" Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:41 WIB

Kisah 108 Solusi Presiden Prabowo Subianto

Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB

Mengapa Dolar AS Menembus Rp18.000?

Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:07 WIB

Memelihara Harapan di Tengah Kesulitan

Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:54 WIB
X