Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Baca Juga: Daya Magis Bang Dodo Belum Aktif, Portugal Ditahan Kongo

Kita masih menemukan nama Sunda di sekolah, di panggung seni, di spanduk kebudayaan, di seremoni pemerintahan, bahkan dalam kebanggaan identitas regional.

Tetapi, pada waktu yang sama, kita juga menyaksikan bahwa sebagian inti kesundaan justru makin terdesak dari kehidupan nyata. Bahasa Sunda makin jarang dipakai dengan utuh dalam keluarga.

Sementara, kekuatan utama budaya Sunda itu bukan pertama-tama terletak pada pakaian adat, alat musik, atau pesta budaya, melainkan pada etika sosial yang halus dan mendalam. Kita mengenal ajaran silih asih, silih asah, silih asuh.

Dalam masyarakat yang makin dikepung budaya serba cepat, nilai silih asih kalah oleh ego. Silih asah kalah oleh pamer pengetahuan, dan silih asuh kalah oleh sikap saling tinggal.

Penipisan itu juga tampak pada bahasa. Dalam kebudayaan Sunda, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah etika. Di dalam bahasa Sunda ada tata hormat, ada ukuran kesopanan, ada kehalusan rasa.

Orang belajar menjadi halus bukan hanya dari nasihat, tetapi dari pilihan kata. Ketika seseorang membiasakan diri bertutur dengan hormat, ia sedang mendidik dirinya sendiri untuk tahu posisi, tahu rasa, tahu adab.

Oleh karena itu, memudarnya bahasa Sunda sesungguhnya bukan cuma soal hilangnya alat bicara, tetapi juga hilangnya salah satu perangkat pembentuk akhlak sosial.

Celakangnya, bukan hanya bahasa yang mengalami pengikisan. Budaya agraris Sunda pun demikian. Padahal salah satu sumber kebesaran Sunda terletak pada kedekatannya dengan alam.

Orang Sunda lama tidak hanya hidup di atas tanah, tetapi hidup bersama tanah. Ada hubungan yang hormat dengan sawah, air, padi, musim, dan hutan.

Begitu pula lumbung padi tradisional seperti leuit bukan hanya tempat menyimpan hasil bumi, melainkan simbol etika pangan.

Kini, modernitas telah menggeser orientasi hidup dari keharmonisan dengan alam menuju dominasi atas alam.

Ritme alam kalah oleh ritme pasar. Orang masih bangga mengaku anak Sunda, tetapi tak lagi akrab dengan filsafat hidup yang tumbuh dari tanah Sunda.

Ini tentu bukan vonis bahwa Sunda telah hilang. Justru ini peringatan bahwa Sunda masih bisa diselamatkan. Ia sesungguhnya masih ada, baik dalam bahasa yang tersisa maupun dalam kampung yang menjaga tata krama. Termasuk, ada dalam tradisi dan seni. Tetapi, yang ada itu memerlukan kerja besar untuk dijaga agar tidak benar-benar tinggal nama.

Salah satu caranya, bahasa Sunda harus hidup lagi di rumah. Tata krama harus kembali menjadi kebiasaan, bukan slogan. Nilai silih asih, silih asah, silih asuh harus diterjemahkan ke dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pergaulan sosial.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X