Dan kearifan agraris Sunda harus dibaca ulang sebagai dasar etika ekologis di tengah krisis lingkungan hari ini.
Dengan cara itulah Sunda tidak hanya akan tetap besar dalam angka, tetapi juga tetap tegak dalam budaya.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Argentina Pimpin Grup J Setelah Gebuk Aljazair
Piala Dunia 2026: Erling Haaland Membawa Norwegia Pimpin Klasemen Grup I Setelah Habisi Irak
Investasi Lebih Dari Rp5 Ribu Triliun Siap Masuk ke Iran Setelah Berdamai dengan Amerika
Duta Besar Marc Gerritsen Akan Hadiri Menonton Bersama Piala Dunia 2026 di Ambon Antara Belanda Vs Swedia
Piala Dunia 2026: Portugal Ditahan Kongo