Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB
Toto Izul Fatah
Toto Izul Fatah

Baca Juga: Rusia Siap Tingkatkan Kemitraan dengan ASEAN

Di balik semua itu, saya menangkap ada niat tulus untuk membuat rakyat lebih sehat, anak-anak lebih cerdas, ekonomi desa lebih kuat, nelayan lebih berdaya dan pengangguran berkurang.

Harus jujur diakui bahwa Itu niat yang mulia. Dan itu juga niat yang patut dihargai. Namun, Presidenku juga harus sadar, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niat baik saja ternyata tidak cukup. Ketulusan saja tidak otomatis membuat program berjalan baik.

Banyak gagasan besar gagal bukan karena niatnya buruk, tetapi karena tata kelolanya lemah, kontrolnya longgar, aparat pelaksananya tidak bersih, komunikasinya buruk, dan keberanian untuk melakukan koreksi sering datang terlambat.

Program besar membutuhkan niat besar. Tetapi niat besar juga membutuhkan sistem besar. Ia membutuhkan perencanaan yang matang, data yang akurat, kontrol yang ketat, ketegasan terhadap penyimpangan, keberanian mencopot orang yang salah.

Termasuk, kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua kebijakan harus dipertahankan jika dalam pelaksanaannya ternyata melahirkan banyak masalah.

Di sinilah seorang pemimpin diuji untuk bersedia mendengar dan mengoreksi.

Tetapi, selain ikhtiar lahir, ada hal lain yang tidak boleh dilupakan. Ada dimensi batin. Ada dimensi spiritual. Ada hubungan sunyi antara manusia dan sang maha pencipta.

Sebab, program besar tanpa rida sang maha pencipta bisa kehilangan berkah. Kebijakan yang tampak hebat di atas kertas bisa berubah menjadi beban.

Ingat, bangsa ini sejak dahulu tidak hanya dibangun dengan rasio, tetapi juga dengan rasa. Para leluhur Nusantara mengajarkan harmoni, keselarasan, laku batin, tirakat, pengendalian diri, dan kesadaran bahwa manusia tidak boleh merasa paling berkuasa.

Ada langit di atas langit. Ada kekuatan yang melampaui kalkulasi manusia. Ada kehendak Tuhan yang tidak bisa ditaklukkan oleh jabatan, senjata, uang, atau kekuasaan.

Dalam konteks itulah, mungkin sudah saatnya Presidenku menempuh jalan sunyi.

Bukan jalan sunyi untuk lari dari tanggung jawab. Bukan pula jalan sunyi untuk meninggalkan kerja-kerja besar kenegaraan. Tetapi jalan sunyi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kekuasaan, lalu bertanya dengan jujur di hadapan Allah:

Apa yang salah dari kami?

Apa yang salah dari cara kami mengelola negara?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X