Baca Juga: Rusia Siap Tingkatkan Kemitraan dengan ASEAN
Di balik semua itu, saya menangkap ada niat tulus untuk membuat rakyat lebih sehat, anak-anak lebih cerdas, ekonomi desa lebih kuat, nelayan lebih berdaya dan pengangguran berkurang.
Harus jujur diakui bahwa Itu niat yang mulia. Dan itu juga niat yang patut dihargai. Namun, Presidenku juga harus sadar, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niat baik saja ternyata tidak cukup. Ketulusan saja tidak otomatis membuat program berjalan baik.
Banyak gagasan besar gagal bukan karena niatnya buruk, tetapi karena tata kelolanya lemah, kontrolnya longgar, aparat pelaksananya tidak bersih, komunikasinya buruk, dan keberanian untuk melakukan koreksi sering datang terlambat.
Program besar membutuhkan niat besar. Tetapi niat besar juga membutuhkan sistem besar. Ia membutuhkan perencanaan yang matang, data yang akurat, kontrol yang ketat, ketegasan terhadap penyimpangan, keberanian mencopot orang yang salah.
Termasuk, kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua kebijakan harus dipertahankan jika dalam pelaksanaannya ternyata melahirkan banyak masalah.
Di sinilah seorang pemimpin diuji untuk bersedia mendengar dan mengoreksi.
Tetapi, selain ikhtiar lahir, ada hal lain yang tidak boleh dilupakan. Ada dimensi batin. Ada dimensi spiritual. Ada hubungan sunyi antara manusia dan sang maha pencipta.
Sebab, program besar tanpa rida sang maha pencipta bisa kehilangan berkah. Kebijakan yang tampak hebat di atas kertas bisa berubah menjadi beban.
Ingat, bangsa ini sejak dahulu tidak hanya dibangun dengan rasio, tetapi juga dengan rasa. Para leluhur Nusantara mengajarkan harmoni, keselarasan, laku batin, tirakat, pengendalian diri, dan kesadaran bahwa manusia tidak boleh merasa paling berkuasa.
Ada langit di atas langit. Ada kekuatan yang melampaui kalkulasi manusia. Ada kehendak Tuhan yang tidak bisa ditaklukkan oleh jabatan, senjata, uang, atau kekuasaan.
Dalam konteks itulah, mungkin sudah saatnya Presidenku menempuh jalan sunyi.
Bukan jalan sunyi untuk lari dari tanggung jawab. Bukan pula jalan sunyi untuk meninggalkan kerja-kerja besar kenegaraan. Tetapi jalan sunyi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kekuasaan, lalu bertanya dengan jujur di hadapan Allah:
Apa yang salah dari kami?
Apa yang salah dari cara kami mengelola negara?
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Portugal Ditahan Kongo
Daya Magis Bang Dodo Belum Aktif, Portugal Ditahan Kongo
Koboi Kalah Perang
Forum Wartawan Kebangsaan Desak Kapolri Kembalikan Rasa Aman
Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya