Oleh Teguh Anantawikrama*
WartaPesona.com - Ketika perang di Timur Tengah makin meluas, rantai pasok global terus terfragmentasi, dan persaingan antarkekuatan besar berlangsung melalui tarif, sanksi, serta kebijakan moneter yang ketat, satu kenyataan menjadi semakin jelas.
Dunia sedang memasuki era di mana stabilitas telah menjadi komoditas yang langka.
Dalam situasi seperti ini, negara yang mampu menyediakan ketahanan—bukan sekadar pertumbuhan—akan menjadi semakin bernilai.
Baca Juga: Rusia Siap Tingkatkan Kemitraan dengan ASEAN
Dan Indonesia memiliki modal itu.
Diskusi terbaru antara Bank Indonesia dan KADIN Indonesia memperlihatkan gambaran yang sangat berbeda dari berbagai narasi pesimistis yang beredar di pasar global.
Ketika ekonomi dunia diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen, inflasi global masih tinggi, dan modal terus mencari aset-aset safe haven, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap bertumbuh di kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat serta investasi yang tetap sehat.
Ini bukan kebetulan.
Baca Juga: Aliansi Perempuan Indonesia Membawa Panci Turun ke Jalan Meminta Harga Pangan Diturunkan
Ini adalah hasil dari pembangunan institusi selama puluhan tahun, disiplin kebijakan makroekonomi, dan filosofi pembangunan yang lebih mengutamakan ketahanan dibanding pertumbuhan yang berlebihan.
Stabilitas telah menjadi aset strategis
Banyak negara mengejar pertumbuhan dengan segala cara.
Indonesia memilih jalan yang berbeda.
Artikel Terkait
Duta Besar Marc Gerritsen Akan Hadiri Menonton Bersama Piala Dunia 2026 di Ambon Antara Belanda Vs Swedia
Piala Dunia 2026: Portugal Ditahan Kongo
Daya Magis Bang Dodo Belum Aktif, Portugal Ditahan Kongo
Koboi Kalah Perang
Forum Wartawan Kebangsaan Desak Kapolri Kembalikan Rasa Aman