Baca Juga: Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious
KDM selama ini dikenal sebagai figur yang kerap tampil emosional ketika bersentuhan dengan derita rakyat.
Dalam beberapa momen, ia beberapa kali terlihat menahan tangis sewaktu berbicara tentang perempuan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), kemiskinan, infrastruktur desa, pendidikan, kesehatan, dan problem sosial warga Jawa Barat.
Dalam salah satu pemberitaan resmi Bapenda Jawa Barat, misalnya, mencatat tangisan Dedi ketika menyoroti nasib perempuan korban TPPO dan moralitas remaja.
Laporan lain juga mencatat ia pernah menahan tangis ketika meminta maaf kepada warga Jawa Barat dan mengakui masih banyak pekerjaan rumah di bidang infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta rumah tidak layak huni.
Karena itu, tangisan KDM tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari karakter kepemimpinan yang berusaha membangun hubungan langsung dengan rakyat. Dalam bahasa Sunda, mungkin inilah yang disebut sebagai pemimpin yang ngarasa ka rakyat—bukan hanya tahu data rakyat, tetapi ikut merasakan getar penderitaan rakyat.
Di sinilah letak makna pentingnya. Masyarakat Jawa Barat tampaknya sedang merindukan figur pemimpin yang tidak terlalu berjarak. Pemimpin yang tidak hanya muncul dalam baliho, pidato resmi, dan ruang protokoler, tetapi hadir dalam bahasa tubuh yang mudah dibaca. Misalnya, dengan menatap, mendengar, memeluk, menegur, tertawa, bahkan menangis.
Dalam politik modern yang sering terasa dingin, teknokratis, dan penuh pencitraan, ekspresi emosional seperti itu justru menghadirkan kembali unsur yang hilang, yaitu: kehangatan.
Namun, air mata tetap harus diterjemahkan menjadi kerja. Di sinilah ujian sesungguhnya. Tangisan pemimpin akan menjadi bermakna bila setelah itu lahir kebijakan yang konkret: jalan desa diperbaiki, anak miskin bisa sekolah, warga sakit mudah berobat, petani mendapat perlindungan, perempuan terlindungi dari perdagangan manusia, dan rakyat kecil tidak merasa sendirian menghadapi hidup.
Dengan kata lain, tangisan KDM jangan hanya dipahami sebagai ekspresi sentimental. Ia harus dibaca sebagai janji moral. Air mata itu adalah kontrak batin antara pemimpin dan rakyatnya.
Bila rakyat menangis karena derita, pemimpin harus menangis karena tanggung jawab.
Bila rakyat berharap, pemimpin harus bekerja. Bila rakyat mencintai, pemimpin tidak boleh mengkhianati.
Tangisan KDM juga bisa bermakna kelembutan hati. Dan dalam kepemimpinan, hati lembut bukan kelemahan selama ia disertai keberanian, ketegasan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang tidak pernah menangis. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu kapan harus menangis bersama rakyat, dan kapan harus berdiri tegak membela rakyat.
Ke depan, figur seperti Dedi tampaknya akan makin dirindukan. Rakyat mulai jenuh dengan pemimpin yang hanya pandai berbicara tetapi miskin kedekatan batin. Rakyat ingin pemimpin yang bukan hanya pintar membuat program, tetapi juga punya rasa.
Artikel Terkait
Sekelompok Remaja Bersenjata Tajam Tawuran di Kampung Betawi Condet Jumat Pagi
Nilai Pasar Pemain Timnas Indonesia Jay Idzes Tembus Rp243 miliar
Perempuan Muda Ditemukan Meninggal di Hotel di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Ada Luka di Kepalanya
Macron dan Prabowo Mencari Jalan Merdeka di Dunia Yang Terbelah
Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious