Akibatnya, Sunda lebih sering hadir sebagai rasa, tetapi belum cukup tegak sebagai referensi. Dampaknya tidak kecil. Ketika sebuah peradaban tidak punya rumah pengetahuan yang layak, generasi mudanya akan tumbuh dalam kebingungan.
Mereka mendengar nama Pajajaran, Prabu Siliwangi, kabuyutan, manuskrip kuno, atau bahkan gagasan besar tentang Sundaland, tetapi tidak punya cukup alat untuk memilah mana yang berbasis data, mana yang tafsir, dan mana yang sekadar mitos yang liar.
Kekosongan referensi akhirnya diisi oleh dua hal, yaitu spekulasi dan romantisme. Yang satu membuat sejarah kehilangan disiplin. Yang lain membuat sejarah kehilangan ketegasan.
Oleh karena itu, kebutuhan akan ensiklopedi Sunda bukan semata kebutuhan akademik. Ini kebutuhan peradaban.
Dan, sebagai langkah awal, sebuah kabar gembira datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Tepat pada malam puncak perayaan Milangkala Tatar Sunda, Minggu malam 17 Mei 2026 di halaman Gedung Sate Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM itu memublikasikan sebuah buku Ensiklopedi Sunda.
Disusun oleh Prof Bagus Mulyadi, pengajar di salah satu universitas di Inggris, Ensiklopedi Sunda ini pada waktunya bukan sekadar untuk mengisi kekosongan referensi sejarah, melainkan sangat diperlukan sebagai obor bangsa untuk lebih mengenal utuh sejarah leluhurnya dan tanah kelahirannya.
Buku Eksiklopedi Sunda ini juga hadir bukan hanya untuk menghimpun data, melainkan untuk memulihkan martabat pengetahuan. Ia harus menjadi jawaban atas keadaan yang terlalu lama dibiarkan. Yaitu, sejarah besar yang dipahami secara kecil, warisan kaya yang dibaca secara tipis, dan identitas kuat yang berdiri di atas fondasi referensi yang rapuh.
Ensiklopedia Sunda juga harus dilihat sebagai proyek strategis, bukan proyek pelengkap. Ia harus memuat kerajaan-kerajaan Sunda, naskah-naskah kuno, prasasti, tokoh-tokoh penting, situs-situs sejarah, etika sosial, sistem bahasa, pandangan kosmologis, tradisi pertanian, seni, islamisasi, perubahan politik, sampai jejak Sunda dalam jejaring peradaban Nusantara dan dunia.
Dengan hadirnya eksiklopedi tersebut, kita sudah harus bisa membedakan secara tegas dan jelas antara fakta, tafsir, dan mitos, tanpa meremehkan nilai kultural dari ketiganya.
Kembali ke arti pentingnya Eksiklopedi Sunda, bahwa ia harus menjadi koreksi terhadap bias lama dalam penulisan sejarah Indonesia. Sudah terlalu sering sejarah nasional bergerak mengikuti logika pusat kuasa, yaitu bahwa yang paling banyak arsipnya, paling mapan lembaganya, dan paling dominan jaringan pengetahuannya.
Oleh karena itu, bila hari ini kita berbicara tentang Ensiklopedia Sunda, kita sesungguhnya sedang berbicara tentang keberanian untuk menata ulang ingatan bangsa.
Kita sedang berbicara tentang tanggung jawab intelektual Jawa Barat, kampus-kampus, perpustakaan, pemerintah daerah, budayawan, filolog, sejarawan, dan para penulis.
Tanpa itu, kita akan terus hidup dalam paradoks, yaitu bangga sebagai orang Sunda, tetapi miskin rujukan tentang Sunda. Memuji leluhur, tetapi malas menyusun warisannya. Marah ketika sejarah Sunda dianggap kecil, tetapi belum sungguh-sungguh membangun rumah pengetahuan yang membuatnya berdiri besar.***
Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat.**
Artikel Terkait
Bali United Menutup Pertandingan Kandang Terakhir Dengan Menundukkan Bhayangkara FC Lampung
MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Pimpin Klasemen Setelah GP Catalunya Yang Dimenangi Fabio Di Giannantonio
Persib Bandung di Ambang Juara Setelah Menang Melawan PSM Makassar
Madura United Terancam Degradasi Setelah Kalah Melawan PSIM Yogyakarta
Viral, Bajak Laut Bersenjata Somalia Sandera ABK Indonesia