opini

Merenungkan Pemakanan Imam Ali Khamenei dan Legitimasi Memorial

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:34 WIB

Dalam negara yang sangat terorganisasi, mobilisasi massa dapat dilakukan melalui fasilitas negara.

Misalnya disediakan transportasi gratis, jaringan organisasi, maupun dorongan sosial yang kuat. Karena itu, jutaan pelayat belum tentu berarti jutaan pendukung politik.

Argumen itu layak dihormati. Namun ia juga tidak membatalkan makna sosial dari kerumunan tersebut.

Dalam ilmu sosial, yang penting bukan hanya apakah semua orang datang secara sukarela, tetapi mengapa sebuah masyarakat masih menganggap kehadiran bersama memiliki arti.

Bahkan bila motif setiap individu berbeda, fakta bahwa jutaan manusia bersedia hadir dalam ruang emosional yang sama tetap merupakan fenomena sejarah yang pantas dipelajari.

Pada akhirnya, pemakaman Ali Khamenei mengingatkan kita bahwa kematian seorang pemimpin selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ia berbicara tentang agama. Tentang bangsa. Tentang memori.

Tentang identitas. Dan terutama tentang cara sebuah masyarakat memilih untuk mengingat masa lalunya.

Karena pada akhirnya, yang dimakamkan bukan hanya seorang manusia. Yang ikut dimakamkan adalah satu bab sejarah. Dan bab berikutnya selalu ditulis oleh mereka yang masih hidup.

Mungkin karena itu hampir setiap peradaban selalu memberi perhatian besar pada cara mereka mengantar kematian.

Mesir membangun piramida. Romawi mendirikan mausoleum. Tiongkok menciptakan pasukan terakota. Nusantara mengenal penghormatan leluhur.

Semua berbeda bentuk. Tetapi mempunyai satu tujuan yang sama. Masyarakat sedang berkata kepada dirinya sendiri:

“Inilah orang yang akan terus kami ingat.” Maka sesungguhnya pemakaman bukan terutama tentang orang yang telah meninggal.

Pemakaman adalah cara masyarakat menjelaskan kepada generasi berikutnya tentang nilai apa yang ingin mereka wariskan.

Kuburan menutup kehidupan seseorang, tetapi ingatan manusialah yang memutuskan apakah sejarah benar-benar telah selesai.***

Halaman:

Tags

Terkini

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB