Dalam ilmu politik, fenomena ini dikenal sebagai rally around the flag effect. Ancaman dari luar sering kali memperkuat identitas nasional dan menyatukan kelompok yang sebelumnya terpecah.
Tidak semua yang hadir mendukung seluruh kebijakan Khamenei. Sebagian hadir karena merasa negaranya sedang berduka.
Alasan ketiga adalah sejarah.
Tidak setiap generasi menyaksikan wafatnya seorang pemimpin yang memimpin selama lebih dari tiga dekade. Banyak orang datang karena mereka sadar sedang menjadi saksi sebuah momen yang akan masuk buku sejarah.
Kehadiran mereka adalah cara sederhana untuk berkata kepada anak cucu kelak, “Aku berada di sana ketika sebuah zaman berakhir.”
Saya menyebut fenomena ini sebagai legitimasi memorial (memorial legitimacy).
Dalam demokrasi kita mengenal legitimasi elektoral. Seorang pemimpin memperoleh kewenangan melalui suara rakyat. Dalam pemerintahan dikenal legitimasi konstitusional. Dalam agama dikenal legitimasi spiritual.
Namun sejarah menunjukkan adanya bentuk legitimasi lain yang baru tampak ketika seseorang telah wafat.
Saya menyebutnya legitimasi memorial.
Legitimasi ini tidak diukur melalui surat suara, bukan pula melalui jabatan atau kekuasaan negara. Ia diukur melalui ingatan kolektif yang mendorong manusia meninggalkan rumahnya, berdiri berjam-jam di jalan, lalu merasa kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah mereka kenal secara pribadi.
Pemakaman besar adalah referendum terakhir sejarah. Yang dihitung bukan lagi suara, melainkan kenangan.
Legitimasi memorial, dengan demikian, dapat dipahami sebagai daya tahan simbolik seorang tokoh di dalam ingatan kolektif, yang baru benar-benar teruji setelah ia tidak lagi memegang jabatan ataupun kekuasaan formal.
Ia berbeda dari karisma politik sehari-hari karena tidak bergantung pada mobilisasi institusi, melainkan pada kesiapan sebuah masyarakat untuk terus mengaitkan tokoh itu dengan nilai yang mereka anggap layak diwariskan.
Di sini, pemakaman massal menjadi salah satu indikator: ia menandai apakah figur tersebut sekadar penguasa, atau telah berubah menjadi rujukan emosional lintas generasi.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa pemakaman sering kali lebih jujur daripada pidato.
Artikel Terkait
Cristiano Ronaldo Pensiun Dari Piala Dunia Setelah 2026 Ini
Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan
Hantu Selembar Ijazah
Bom Waktu Koperasi Desa Merah Putih: Program Baik yang Bisa Berakhir Buruk
Piala Dunia 2026: Inggris Menantang Norwegia di Perempat Final