Saya semakin percaya bahwa ada dua jenis legitimasi.
Yang pertama adalah legitimasi politik. Ia berhenti ketika masa jabatan selesai.
Yang kedua adalah legitimasi emosional. Ia baru mulai diuji setelah seseorang meninggal.
Pemilu menentukan siapa yang memimpin negara. Pemakaman menunjukkan siapa yang berhasil tinggal di dalam ingatan bangsa.
Yang satu diukur oleh kotak suara. Yang lain diukur oleh langkah kaki manusia menuju liang lahat.
Sepanjang sejarah modern, beberapa pemakaman memang menjadi lautan manusia.
Pemakaman Mahatma Gandhi di India tahun 1948 diperkirakan dihadiri lebih dari satu juta orang.
Pemakaman Gamal Abdel Nasser di Mesir tahun 1970 diperkirakan mencapai sekitar lima juta pelayat.
Pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini tahun 1989 bahkan diperkirakan mencapai sekitar sepuluh juta orang dan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah modern.
Pemakaman Paus Yohanes Paulus II tahun 2005 menghadirkan jutaan peziarah ke Roma.
Kini, pemakaman Ali Khamenei diperkirakan juga masuk dalam daftar prosesi terbesar, meskipun angka akhirnya masih akan diperdebatkan.
Persamaannya menarik. Mereka semua bukan sekadar tokoh politik.
Mereka adalah simbol. Dan simbol selalu hidup lebih lama daripada tubuh manusia.
Tentu ada kontra argumen.
Sebagian pengamat berpendapat bahwa besarnya kerumunan tidak dapat dijadikan ukuran legitimasi politik.
Artikel Terkait
Cristiano Ronaldo Pensiun Dari Piala Dunia Setelah 2026 Ini
Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan
Hantu Selembar Ijazah
Bom Waktu Koperasi Desa Merah Putih: Program Baik yang Bisa Berakhir Buruk
Piala Dunia 2026: Inggris Menantang Norwegia di Perempat Final