Saya pernah berdiri di tengah ribuan orang yang mengantar seseorang ke liang lahat. Saat itu saya menyadari, tidak ada jabatan yang ikut dikuburkan.
Tidak ada kekayaan yang ikut ditimbun bersama tanah. Yang tinggal hanyalah kenangan orang lain tentang bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya.
Barangkali karena itulah saya selalu memandang pemakaman bukan sebagai akhir kehidupan, melainkan cermin terakhir dari kehidupan itu sendiri.
Ketika saya membaca berita tentang jutaan orang memenuhi jalan-jalan Teheran, saya tidak segera bertanya apakah mereka semua setuju dengan Khamenei. Pertanyaan saya justru berbeda.
Apa yang membuat seorang manusia meninggalkan jejak emosi sedemikian besar sehingga bahkan kematiannya masih mampu menggerakkan lautan manusia?
Sejarah ternyata tidak hanya ditulis oleh kebijakan. Sejarah juga ditulis oleh cara manusia dikenang.
Fenomena ini mengingatkan saya pada dua buku penting. Pertama, buku berjudul The Elementary Forms of Religious Life. Penulisnya Émile Durkheim, 1912.
Durkheim menjelaskan bahwa ritual keagamaan tidak sekadar menghubungkan manusia dengan Tuhan. Ritual juga menghubungkan manusia dengan sesamanya.
Ketika ribuan atau jutaan orang berkumpul dalam satu emosi yang sama, muncul apa yang ia sebut collective effervescence. Individu berhenti merasa sendirian. Mereka menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam konteks pemakaman tokoh besar, rasa kehilangan pribadi berubah menjadi pengalaman kolektif. Kesedihan tidak lagi dimiliki seseorang, melainkan dimiliki sebuah bangsa.
Itulah sebabnya ritual kematian sering menjadi momen paling kuat dalam membangun identitas bersama.
Buku kedua berjudul Crowds and Power. Penulisnya Elias Canetti, 1960.
Canetti menunjukkan bahwa kerumunan memiliki logikanya sendiri. Orang yang datang sebagai individu perlahan berubah menjadi bagian dari massa yang berbagi emosi bersama.
Dalam situasi tertentu, rasa takut menghilang, perbedaan sosial memudar, dan muncul pengalaman kesatuan yang sangat kuat.
Pemakaman tokoh besar adalah salah satu contoh paling jelas dari proses itu. Orang datang bukan hanya untuk melihat jenazah, tetapi untuk ikut merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sejarah yang sedang berlangsung.
Artikel Terkait
Cristiano Ronaldo Pensiun Dari Piala Dunia Setelah 2026 Ini
Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan
Hantu Selembar Ijazah
Bom Waktu Koperasi Desa Merah Putih: Program Baik yang Bisa Berakhir Buruk
Piala Dunia 2026: Inggris Menantang Norwegia di Perempat Final