Baca Juga: Persebaya Surabaya Mendatangkan Pemain Asal Tanjung Verde Yuran Fernandes
Dalam fiqih Syiah sendiri dikenal prinsip darurah atau keadaan darurat. Ketika keselamatan jiwa masyarakat terancam, beberapa ketentuan praktis dapat ditangguhkan sementara tanpa dianggap melanggar syariat.
Penundaan pemakaman karena perang, ancaman keamanan, atau kondisi luar biasa termasuk dalam kategori yang dapat dibenarkan oleh banyak ulama.
Yang ditunda bukan penghormatan kepada jenazah. Yang ditunda hanyalah waktunya. Sementara penghormatan justru diperbesar.
Menurut berbagai laporan media, jumlah pelayat diperkirakan mencapai jutaan orang selama rangkaian prosesi di Teheran, Qom, hingga Mashhad.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Mendatangkan Pemain Asal Tanjung Verde Yuran Fernandes
Pemerintah Iran bahkan mempersiapkan belasan juta pengunjung sepanjang beberapa hari upacara, walaupun angka pasti tidak pernah dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, estimasi yang paling hati-hati adalah “jutaan orang”.
Mengapa begitu banyak orang datang?
Alasan pertama adalah agama.
Dalam tradisi Syiah, seorang Marja’ dan terutama seorang Pemimpin Tertinggi bukan sekadar kepala negara. Ia dipandang sebagai penjaga kesinambungan spiritual Revolusi Islam 1979.
Kehadirannya menyatukan dimensi politik dan religius sekaligus. Bagi jutaan pengikutnya, menghadiri pemakaman bukan hanya penghormatan kepada seorang manusia, melainkan bentuk kesetiaan kepada keyakinan yang telah membentuk identitas hidup mereka.
Di dalam psikologi agama, ritual semacam ini memperkuat solidaritas kolektif melalui pengalaman emosional yang dibagikan bersama.
Alasan kedua adalah nasionalisme.
Banyak warga Iran mungkin berbeda pandangan terhadap kebijakan pemerintah. Sebagian bahkan pernah mengkritik keras sistem politik negaranya.
Namun kematian seorang pemimpin akibat serangan negara asing sering kali mengubah dinamika psikologi masyarakat. Kritik internal dapat bergeser menjadi solidaritas nasional.