Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Secara lahiriah, kunjungan Dedi Mulyadi akrab disapa KDM --Kang Dedi Mulyadi ke Papua belum lama ini mungkin benar sebagai kunjungan balasan. Tetapi secara simbolik, disitu ada makna politik, budaya, dan kebangsaan yang sangat kuat.
Kenapa? Karena Dedi datang bukan sebagai pejabat pusat. Ia juga bukan gubernur Papua. Ia adalah Gubernur Jawa Barat.
Lewat kunjungannya, Dedi ingin menunjukkan bahwa Papua bukan hanya urusan pemerintah pusat, bukan hanya urusan aparat, bukan hanya urusan kebijakan dari Jakarta. Papua adalah urusan hati seluruh anak bangsa.
Baca Juga: Temukan Dompet, Perempuan Pedagang Siomai di Sumberlawang Sragen Minta Tebusan Rp1 juta
Selama ini, Papua terlalu sering dibicarakan dengan bahasa keamanan, strategi, investasi, tambang, infrastruktur, dan angka-angka pembangunan.
Padahal, Papua juga harus dibaca dengan bahasa rasa. Papua harus didengar dengan telinga batin. Papua harus didekati dengan penghormatan terhadap manusia, adat, tanah, alam, dan martabat orang asli Papua.
Dalam konteks itulah kehadiran Dedi Mulyadi menjadi penting. Dedi membawa gaya kepemimpinan yang selama ini dikenal merakyat, kultural, emosional, dan tidak terlalu berjarak dengan rakyat kecil.
Ia tidak datang hanya membawa teori pembangunan, tetapi membawa pesan bahwa membangun manusia harus dimulai dari menghormati jiwa, budaya, dan akar hidup masyarakatnya.
Baca Juga: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Akan Kembali Maju di Pemilu Meski Sedang Berkecamuk Perang
Oleh karena itu, kunjungan Dedi ke Papua bisa dimaknai sebagai bagian dari diplomasi rasa antar anak bangsa.
Sebuah upaya halus untuk mengatakan bahwa Papua tidak sendirian.
Bahwa ada pemimpin dari tanah Sunda yang datang bukan untuk menggurui, tetapi untuk mendengar. Bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk merangkul.
Di tengah masih adanya luka sejarah, ketimpangan, rasa tidak adil, dan suara-suara yang ingin memisahkan diri, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan.