Baca Juga: Jakarta International Stadium Didesas-desuskan Akan Berubah Menjadi Hyundai International Stadium
Sebab, gagasan Papua merdeka tidak bisa hanya dijawab dengan larangan, tekanan, atau pendekatan keamanan.
Ia harus dijawab dengan keadilan, penghormatan, kesejahteraan, pendidikan, pelayanan publik, dan rasa memiliki terhadap Indonesia.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Dedi Mulyadi seolah sedang membawa pesan, bahwa Papua merdeka bukanlah solusi terbaik, karena Indonesia masih bisa menjadi rumah bersama yang memberi harapan.
Tetapi harapan itu tidak boleh hanya diucapkan. Ia harus dibuktikan lewat perubahan nyata.
Papua harus merasakan keadilan. Papua tidak cukup hanya diberi proyek. Papua harus diberi ruang untuk menentukan arah hidupnya dalam bingkai kebudayaan dan martabatnya sendiri.
Papua tidak cukup hanya dilihat sebagai tanah kaya sumber daya alam. Papua harus diperlakukan sebagai tanah manusia, tanah budaya, tanah leluhur, dan tanah masa depan Indonesia.
Dalam konteks itulah, pesan Dedi Mulyadi menjadi kuat. Ia selama ini dikenal sebagai pemimpin yang sering berbicara tentang pentingnya akar budaya dalam pembangunan.
Di Jawa Barat, ia menghidupkan kembali nilai-nilai Sunda, menjaga relasi manusia dengan alam, dan mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh mencabut manusia dari tanah budayanya.
Ketika gagasan itu dibawa ke Papua, ia menemukan relevansi yang sangat dalam.
Papua adalah wilayah yang kaya adat, kaya simbol, kaya nilai, dan kaya spiritualitas ekologis. Orang Papua memiliki hubungan yang kuat dengan tanah, hutan, sungai, gunung, marga, dan komunitas adat.
Jika pembangunan datang dengan cara menabrak semua itu, maka pembangunan tidak akan melahirkan cinta. Ia justru bisa melahirkan luka baru.
Dengan demikian, kunjungan Dedi ke Papua bisa dibaca sebagai ajakan untuk mengubah cara negara memandang Papua. Papua jangan hanya didekati dengan peta kekuasaan, tetapi dengan peta kebudayaan.
Kehadiran Dedi juga bukan dalam rangka sedang mengajari nasionalisme. Karena nasionalisme justru lahir dari kehadiran yang tulus. Dari kunjungan yang hangat. Dari percakapan yang setara. Dari kesediaan mendengar keluhan rakyat yang jauh dari pusat kekuasaan.
Jika rakyat Papua merasa didengar, dihormati, dan diperlakukan adil, maka benih-benih kekecewaan bisa perlahan mereda.
Artikel Terkait
Indonesia Must Lead the Global South in the Age of AI and Geopolitical Fragmentation
Membaca Sumpah "Demi Allah" Sony Sonjaya
Imigrasi Amankan Dokter Gigi Asal Vietnam Yang Berpraktik di Ciputat
Lima Pegawai BPK Kena OTT KPK
Piala Dunia 2026: Inilah Jadwal Pertandingan di Pekan Ini, mulai Jumat dini hari WIB