Bahasa Māori kembali diajarkan. Ritual adat tetap hidup. Anak-anak Māori bisa masuk universitas modern tanpa harus malu menjadi pribumi.
Modernitas tidak lagi datang sebagai alat penghapus identitas, tetapi sebagai kendaraan untuk memperkuat identitas.
Itulah pembangunan yang berwajah antropologi.
Pembangunan yang tidak memaksa masyarakat adat memilih antara menjadi modern atau tetap menjadi dirinya sendiri.
Karena manusia tidak hanya ingin hidup makmur. Manusia juga ingin hidup terhormat.
Ada dua buku yang sangat penting untuk memahami isu ini.
Pertama, Seeing Like a State karya James C. Scott, diterbitkan Yale University Press tahun 1998.
Scott menjelaskan bagaimana negara modern sering gagal karena terlalu percaya pada logika teknokratis. Negara melihat masyarakat sebagai objek yang harus disederhanakan agar mudah diatur.
Hutan menjadi angka hektare. Manusia menjadi data statistik. Tradisi dianggap penghambat efisiensi.
Scott menunjukkan bahwa proyek-proyek besar sering runtuh karena mengabaikan pengetahuan lokal.
Apa yang terjadi di Papua terasa sangat relevan dengan tesis Scott.
Negara datang dengan target produksi dan peta lurus dari Jakarta. Tetapi masyarakat adat memiliki relasi kompleks dengan tanah, sungai, dan hutan yang tak bisa dipahami hanya dengan angka.
Buku ini mengingatkan kita bahwa pembangunan yang mengabaikan manusia mungkin terlihat modern di atas meja birokrasi, tetapi sering melahirkan kehancuran di lapangan.
Buku kedua adalah The Death and Life of Great American Cities karya Jane Jacobs, diterbitkan Random House tahun 1961.
Jacobs mengkritik perencana kota modern yang terlalu obsesif pada keteraturan dan efisiensi.