Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa program sosial gagal bukan karena tujuannya salah. Program gagal karena tata kelolanya lemah.
Oleh karena itu, reformasi BGN harus dimulai dari tata kelola digital yang terbuka. Dashboard pengadaan, pemasok, distribusi, dan kualitas makanan harus dapat dipantau publik.
Kepercayaan adalah modal pembangunan yang paling mahal. Uang yang hilang masih bisa dicari. Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan.
Jika MBG mampu menjaga kepercayaan publik, ia akan menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam sejarah Indonesia.
Lima puluh tahun dari sekarang, bangsa ini mungkin tidak lagi mengingat siapa pejabat yang mengelola MBG. Namun bangsa ini akan mengingat jika program tersebut berhasil mengangkat martabat jutaan keluarga.
Dua buku di bawah ini menambah wawasan kita soal topik di atas. Buku pertama adalah Poor Economics karya Abhijit V. Banerjee dan Esther Duflo, terbit tahun 2011.
Melalui penelitian lapangan di berbagai negara berkembang, kedua peraih Nobel Ekonomi ini menunjukkan bahwa program pengentasan kemiskinan berhasil bukan karena besarnya anggaran, melainkan karena ketepatan desain kebijakan.
Mereka menemukan bahwa investasi pada kesehatan, gizi, dan pendidikan anak memberikan manfaat ekonomi jangka panjang yang jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
Pelajaran terpenting bagi MBG adalah bahwa program sosial harus dirancang agar menghasilkan perubahan perilaku dan produktivitas, bukan sekadar bantuan sesaat.
Yang lebih menarik lagi, Banerjee dan Duflo berulang kali menunjukkan bahwa keluarga miskin sering kali bukan kekurangan kemauan bekerja. Mereka kekurangan akses pada pasar, modal, dan kepastian pendapatan. Ketika ketiga unsur itu tersedia, masyarakat miskin mampu berkembang dengan cepat.
Dalam konteks MBG, pelajaran ini sangat penting. Negara tidak cukup hanya memberi makan anak sekolah. Negara perlu menciptakan ekosistem ekonomi yang membuat petani, nelayan, peternak, dan UMKM memiliki pembeli yang pasti setiap hari.
Dengan demikian, MBG tidak lagi menjadi biaya sosial semata, tetapi berubah menjadi investasi produktif yang memperkuat ekonomi akar rumput. Inilah inti gagasan bahwa setiap piring makanan dapat menjadi mesin ekonomi rakyat.
Buku kedua adalah The End of Poverty karya Jeffrey D. Sachs, terbit tahun 2005.
Sachs menjelaskan bahwa kemiskinan sering kali merupakan perangkap yang membuat masyarakat tidak mampu keluar dari keterbelakangan.
Solusinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi makro, melainkan investasi langsung pada kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat akar rumput.
Artikel Terkait
Bruno Moreira Bergabung ke Klub Thailand Port FC
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim Dijebloskan ke Tahanan
Bekas Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer Divonis 4,5 Tahun Penjara
Dadan Hindayana Cs Diduga Intervensi Pengadaan Sepeda Motor Listrik Rp1 Triliun
Dugaan Pemerasan Yang Menyeret Silmy Karim Cs Mencapai Ratusan Miliar Rupiah