Mengubah Makan Bergizi Gratis Sebagai Mesin Ekonomi Rakyat

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 5 Juni 2026 | 07:48 WIB

Baca Juga: KPK Berpeluang Jerat Silmy Karim Cs Dengan Pasal Pencucian Uang

Pergantian pimpinan BGN tidak boleh berhenti pada pergantian nama. Yang harus berubah adalah orientasi dan tata kelolanya.

Jika sebelumnya fokus utama hanya distribusi makanan, kini saatnya MBG dipandang sebagai instrumen pembangunan ekonomi rakyat.

Bangsa ini tidak membutuhkan sekadar pergantian pejabat. Bangsa ini membutuhkan perubahan paradigma.

MBG harus menjadi program yang bukan hanya mengenyangkan anak, tetapi juga menggerakkan desa.

Bukan hanya memperbaiki gizi, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat.

Bukan hanya mengurangi stunting, tetapi juga mengurangi kemiskinan.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendesentralisasikan dapur MBG dan menjadikannya pusat ekonomi lokal.

Selama bertahun-tahun, banyak program pemerintah terjebak dalam sentralisasi pengadaan. Kontrak besar diberikan kepada kelompok besar. Distribusi dikuasai segelintir pihak. Akibatnya uang negara berputar di lingkaran yang sempit.

MBG harus mengambil jalan berbeda.

Di banyak desa, kemiskinan bukan lahir karena orang malas bekerja. Kemiskinan lahir karena hasil kerja tidak pernah bertemu pembeli yang pasti. MBG dapat menjadi jembatan yang selama ini hilang.

Dapur MBG perlu dikelola koperasi desa, BUMDes, sekolah, pesantren, dan kelompok masyarakat lokal. Bahan bakunya harus dibeli dari petani, peternak, nelayan, dan UMKM setempat.

Dengan cara ini, uang negara tidak berhenti di dapur. Ia mengalir ke sawah, ke kolam ikan, ke kandang ayam, ke pasar desa.

Setiap rupiah menghasilkan efek berlipat. Ekonom menyebutnya multiplier effect.

Rakyat menyebutnya rezeki.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 5 Juni 2026 | 06:39 WIB

Menguji Ramalan Leluhur di Tengah Zaman Kacau

Selasa, 2 Juni 2026 | 10:47 WIB

Tan Malaka dan Keberanian Berpikir

Selasa, 2 Juni 2026 | 09:10 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 12:54 WIB

Abu Janda Versus Permadi Arya

Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB

Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku

Senin, 1 Juni 2026 | 09:20 WIB

Dua Kali Adil

Senin, 1 Juni 2026 | 07:00 WIB

Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:40 WIB

Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious

Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:04 WIB
X