Menjadi Penulis di Era Artificial Intelligence

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 1 Mei 2026 | 18:29 WIB

Hanya ada dorongan untuk tidak lagi memendam.

Dan ketika saya membaca ulang, saya sadar. Tulisan itu hidup.

Tulisan itu tentang ayah saya. Tentang kemarahan yang tak pernah saya ucapkan, dan rindu yang datang terlambat. Saya menulisnya bukan untuk diterbitkan, tapi agar saya berhenti berpura-pura baik-baik saja.

Hari ini, saya bisa menulis lebih rapi. Lebih cepat. Bahkan dengan bantuan AI.

Tapi saya harus terus mengingat satu hal.

Tulisan yang baik bukan hanya yang benar. Tulisan yang baik adalah yang berani.

Di era AI, penulis tidak lagi diukur dari kemampuannya merangkai kata.

Ia diukur dari keberaniannya menjadi manusia.

Ia memberi kesaksian agar dunia tidak lupa. Ia memberi arah agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.

Ia memberi makna agar kehidupan tidak terasa hampa.

Dan selama manusia masih mencari kebenaran, arah, dan makna, penulis akan selalu dibutuhkan.

Di tengah dunia yang bisa menulis segalanya, hanya penulis yang jujur yang sanggup menuliskan apa yang bahkan ia sendiri takut untuk akui.***

*Denny JA ialah Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA

Referensi

The Death of the Author, Roland Barthes Hill and Wang, 1977

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X