Hanya ada dorongan untuk tidak lagi memendam.
Dan ketika saya membaca ulang, saya sadar. Tulisan itu hidup.
Tulisan itu tentang ayah saya. Tentang kemarahan yang tak pernah saya ucapkan, dan rindu yang datang terlambat. Saya menulisnya bukan untuk diterbitkan, tapi agar saya berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Hari ini, saya bisa menulis lebih rapi. Lebih cepat. Bahkan dengan bantuan AI.
Tapi saya harus terus mengingat satu hal.
Tulisan yang baik bukan hanya yang benar. Tulisan yang baik adalah yang berani.
Di era AI, penulis tidak lagi diukur dari kemampuannya merangkai kata.
Ia diukur dari keberaniannya menjadi manusia.
Ia memberi kesaksian agar dunia tidak lupa. Ia memberi arah agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.
Ia memberi makna agar kehidupan tidak terasa hampa.
Dan selama manusia masih mencari kebenaran, arah, dan makna, penulis akan selalu dibutuhkan.
Di tengah dunia yang bisa menulis segalanya, hanya penulis yang jujur yang sanggup menuliskan apa yang bahkan ia sendiri takut untuk akui.***
*Denny JA ialah Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA
Referensi
The Death of the Author, Roland Barthes Hill and Wang, 1977
Artikel Terkait
Bagaimana Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Mengubah Dunia Bisnis?
Memperkenalkan Peluang Pekerjaan Terbaru di Bidang Data Science dan Artificial Intelligence bagi Lulusan FMIPA
Pengenalan Artificial Intelligence dan 6 Manfaatnya dalam Kehidupan
Manfaat Artificial Intelligence di Era Teknologi Saat Ini: Merintis Masa Depan Cerdas