Mungkin masalahnya bukan AI yang terlalu pintar. Mungkin kita yang terlalu cepat berhenti jujur, terlalu cepat puas pada kalimat rapi yang menyembunyikan luka yang seharusnya kita akui.
Tiga alasan menjadi penulis yang tak bisa diserahkan kepada Artificial Intelligence.
Pertama, penulis memberi kesaksian atas ketidakadilan zaman.
Sejarah selalu berubah karena ada yang berani mencatat. Tanpa kesaksian, ketidakadilan menjadi sunyi.
Lihatlah karya Aleksandr Solzhenitsyn tentang Gulag di Uni Soviet. Ia tidak hanya menulis tentang sistem penjara. Ia menulis tentang penderitaan yang ingin dilupakan negara.
Bukunya membuka mata dunia bahwa kekuasaan bisa membungkam kebenaran, tapi tidak selamanya.
Penulis mengubah fakta menjadi pengalaman. Ia membuat pembaca tidak hanya tahu, tapi merasakan.
Di era AI, informasi berlimpah. Tapi empati tidak otomatis lahir dari data.
Kesaksianlah yang menghidupkan empati itu. Dan kesaksian selalu membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk berpihak.
Keberanian untuk tidak netral ketika yang dihadapi adalah ketidakadilan.
Namun, di tengah banjir informasi AI yang rentan manipulasi dan halusinasi, penulis kini memikul tugas baru: menjadi penjaga akurasi yang memastikan bahwa kebenaran tidak tenggelam dalam lautan narasi buatan.
Kedua, penulis memberi arah untuk kemajuan.
Dunia tidak kekurangan ide. Tapi sering kehilangan arah.
Tulisan-tulisan Jean-Jacques Rousseau tentang kontrak sosial dulu dianggap radikal. Tapi dari sana lahir bahasa tentang hak rakyat, tentang legitimasi kekuasaan, dan tentang demokrasi modern.
Artikel Terkait
Bagaimana Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Mengubah Dunia Bisnis?
Memperkenalkan Peluang Pekerjaan Terbaru di Bidang Data Science dan Artificial Intelligence bagi Lulusan FMIPA
Pengenalan Artificial Intelligence dan 6 Manfaatnya dalam Kehidupan
Manfaat Artificial Intelligence di Era Teknologi Saat Ini: Merintis Masa Depan Cerdas