Menjadi Penulis di Era Artificial Intelligence

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 1 Mei 2026 | 18:29 WIB

Penulis tidak hanya menggambarkan dunia apa adanya. Ia membayangkan dunia sebagaimana seharusnya.

Ia membuka jalan yang belum ada.

Di era AI, arah menjadi semakin penting. Karena ketika semua kemungkinan tersedia, manusia justru lebih mudah tersesat.

Penulis membantu kita memilih bukan dengan memerintah, tapi dengan memperjelas apa yang layak diperjuangkan.

Ia menjaga agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.

Ketiga, penulis memberi makna atas kehidupan.

Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat biasa. Mengapa kehilangan terasa begitu dalam. Mengapa cinta tetap bertahan meski dilukai.

Leo Tolstoy dalam The Death of Ivan Ilyich tidak hanya menceritakan kematian. Ia mengajak kita melihat bagaimana seseorang menyadari, di akhir hidupnya, bahwa ia belum benar-benar hidup.

Tulisan itu tidak memberi jawaban. Ia memberi kesadaran.

Penulis mengubah pengalaman pribadi menjadi cermin bagi banyak orang.

Ia membuat seseorang yang membaca merasa tidak sendirian.

Dan di situlah makna lahir.

Makna tidak diciptakan oleh kecanggihan bahasa. Makna lahir dari kejujuran yang berani diakui.

Ada dua buku yang dapat memperkaya wawasan kita tentang profesi penulis.

Pertama, The Death of the Author, ditulis oleh Roland Barthes, 1977.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X