Mengubah jarak menjadi kedekatan.
Abraham Lincoln, dalam sebuah legenda sejarah, disebut menyapa Stowe sebagai perempuan kecil yang memulai perang besar itu.
Baca Juga: Jadwal Super League: Persebaya Surabaya vs PSBS Biak di Indosiar Sabtu sore
Entah benar atau tidak, satu hal pasti. Buku itu mengubah kesadaran. Ia membuat dunia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.
Dan dari sana, perbudakan mulai kehilangan legitimasi moralnya.
Buku itu adalah contoh paling klasik dari peran abadi seorang penulis. Memberi kesaksian atas ketidakadilan zamannya.
Hari ini, di era artificial intelligence (AI), kesaksian itu justru semakin penting.
Mesin kini bisa menulis. Bahkan sangat baik. Ia bisa menyusun argumen, merangkai kalimat, dan meniru gaya dengan presisi tinggi.
Tetapi arah dan jiwa tulisan itu tetap milik manusia.
Tanggal 29 April 2026, Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA genap berusia sembilan tahun. Empat tahun terakhir, saya diberi kehormatan untuk memimpin sebagai ketua umum.
Di momen ini, saya tidak ingin sekadar merayakan pencapaian. Saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang lebih mendasar.
Apa arti menjadi penulis hari ini. Ketika semua orang bisa menulis, apa yang masih membuat tulisan kita perlu ada.
Jawabannya tidak lagi terletak pada keterampilan. Melainkan pada keberanian.
Keberanian untuk menuliskan apa yang sebenarnya ingin kita sembunyikan.
Inilah tesis yang semakin terasa di era AI. Yang terancam bukan penulis. Yang terancam adalah kejujuran.
Artikel Terkait
Bagaimana Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Mengubah Dunia Bisnis?
Memperkenalkan Peluang Pekerjaan Terbaru di Bidang Data Science dan Artificial Intelligence bagi Lulusan FMIPA
Pengenalan Artificial Intelligence dan 6 Manfaatnya dalam Kehidupan
Manfaat Artificial Intelligence di Era Teknologi Saat Ini: Merintis Masa Depan Cerdas