WartaPesona.com - Jakarta – Dalam setiap krisis besar, jalan aman seringkali hanya fatamorgana. Kehati-hatian, konsensus, dan kepatuhan pada ortodoksi ekonomi mungkin terasa nyaman—namun jarang mampu menyelamatkan sebuah bangsa dari gelombang kekacauan global.
Di saat-saat luar biasa, justru keputusan yang berani—meski kerap dikritik—yang mampu mencegah kehancuran dan mengarahkan sejarah ke jalur baru.
Kita pernah menyaksikannya. Dan kita menyaksikannya lagi hari ini.
Teguh Anantawikrama, Ketua Indonesian Tourism Investors Club yang juga Wakil Ketua Umum Bidang Teknologi Transfer dan Digital KADIN Indonesia menuliskan hal ini seperti yang dikutip dari versi Bahasa Inggris dari media WartaEkonomi.
Baca Juga: Dari Fragmentasi ke Kolaborasi: Teguh Anantawikrama Dukung Transformasi Indonesia Era Prabowo
1997: Saat Dunia Runtuh dan Keberanian Menjadi Penyelamat
Krisis finansial Asia 1997 adalah pelajaran keras tentang kegagalan kebijakan ekonomi ortodoks. Thailand kolaps. Indonesia terjerumus dalam kerusuhan dan perubahan rezim.
Investor lari dari Asia Tenggara seolah-olah wilayah ini terbakar.
Lembaga keuangan global hadir membawa resep klasik: naikkan suku bunga, potong belanja negara, biarkan pasar "menyembuhkan" dirinya. Sebagian besar negara patuh—terpaksa dan tergantung.
Namun Malaysia tidak.
Perdana Menteri Mahathir Mohamad menolak bantuan IMF dan kebijakan mereka. Ia memilih jalan berbeda: mengunci arus modal, mematok ringgit, dan menyelamatkan ekonomi dengan caranya sendiri. Barat mencibir. Media asing menyebutnya “gila.” Tapi sejarah membuktikan sebaliknya.
Malaysia pulih lebih cepat. Tahun 1999, pertumbuhan ekonomi kembali ke 6,1% setelah sebelumnya terkontraksi. Negara tetap berdaulat atas kebijakannya sendiri—tanpa harus tunduk pada kekuatan luar.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto di Champs-Élysées: Diplomasi Merah Putih di Bastille Day Prancis
2025: Dunia Goyah, Indonesia Butuh Keberanian Serupa
Kini, kita berada dalam dunia yang tidak kalah rapuh. Pandemi global, perang dagang AS-Tiongkok, perlambatan teknologi, ketegangan geopolitik, hingga krisis iklim global—semuanya membuat tatanan lama goyah.
Dunia kehilangan arah. Aturan berubah. Dan di tengah kekacauan ini, Indonesia butuh kepemimpinan yang berani.
Saya melihat keberanian itu dalam diri Presiden Prabowo Subianto, yang telah menunjukkan bahwa strategi berani bukan sekadar mungkin—tetapi mutlak diperlukan.
Sejak menjadi Menteri Pertahanan hingga kini menjabat sebagai Presiden, Prabowo menolak menjadikan Indonesia sekadar penonton dalam dunia yang tak menentu.
Baca Juga: Bukan Sekadar Wacana: Jejak Nyata Jakarta Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Mata Dunia
Dari Hilirisasi ke Diplomasi Mandiri
Selama perang dagang global berlangsung, Prabowo mendorong kedaulatan ekonomi lewat kebijakan hilirisasi.
Ia mendukung pelarangan ekspor bahan mentah seperti nikel dan bauksit—langkah kontroversial yang bertujuan memaksa investasi dalam industri dalam negeri.
Artikel Terkait
Drama Penyelamatan di Rinjani: Pendaki Swiss Dievakuasi Usai Terjatuh di Jalur Ekstrem
Connie Francis Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun: Warisan Suara yang Menembus Generasi Lewat Pretty Little Baby
Tes DNA Lisa Mariana Disetujui: Babak Baru Kontroversi dengan Ridwan Kamil Siap Dimulai
COD Dinilai Rawan Kekerasan, DPR Desak Kemendag Evaluasi Sistem Pembayaran Langsung di Tempat