Melawan intoleransi dengan cara intoleran
Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Indonesia hari ini tak pernah kekurangan orang yang berani bicara. Yang mulai langka justru orang yang mau dan mampu bicara dengan jernih, teduh, bijak dan menyatukan.
Lihat saja bagaimana ruang publik kita, terutama di media sosial. Di situ, mereka begitu mudah saling serang, saling hina, saling melukai, dan bahkan provokasi yang berbasis suku, ras dan agama.
Ujungnya, perbincangan di ruang publik menjadi kabur, siapa yang benar dan siapa yang salah.
Baca Juga: Apakah Pancasila Masih Relevan Dengan Ideologi Negara?
Di satu sisi, ada pihak yang seperti benar sedang melawan intoleransi, tetapi di sisi yang lain, ada pihak yang tidak terima karena merasa cara mereka dalam melawan intoleransi itu dengan cara yang juga intoleran.
Itulah, kira-kira, potret telanjang yang sedang diperankan
Heddy Setya Permadi alias Permadi Arya yang populer dipanggil Abu Janda.
Ada ironi besar dalam cara Abu Janda melawan intoleransi. Ia tampil seolah sedang berhadapan dengan kelompok intoleran di luar dirinya.
Baca Juga: Kematian dan Kupu-kupu Itu, Adikku
Padahal, dalam banyak pernyataannya, ia seperti sedang berhadapan dengan bayangan dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia sedang melawan sikap intoleran dirinya sendiri.
Abu Janda yang satu mengaku melawan intoleransi. Tetapi Permadi Arya yang lain justru memakai cara, bahasa, mimik, dan gaya komunikasi yang terasa intoleran.
Abu Janda mengecam kebencian, tetapi Permadi Arya kerap memakai diksi yang memancing kebencian baru.
Artikel Terkait
MotoGP Italia 2026: Marco Bezzecchi Memimpin Klasemen Sementara Setelah Raul Fernandez Menangi Sprint Race
Tan Malaka dan Pelajaran Tentang Organisasi Rakyat
Berita Duka, Mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu Meninggal
MotoGP Italia 2026: Marco Bezzecchi Juara
MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Memimpin Klasemen Sementara Setelah Menjuarai GP Italia