Baca Juga: Prediksi Herry Kiswanto Final Piala Dunia 2026 Spanyol Melawan Argentina
Gagasannya sederhana. Bbeerapa pemain Barcelona akan berinteraksi dengan bayi-bayi yang dipilih melalui undian dari keluarga-keluarga di wilayah Catalunya.
Salah satu keluarga yang beruntung berasal dari kota Mataró. Seorang ibu bernama Sheila Ebana membawa bayi laki-lakinya yang baru berusia sekitar lima bulan. Nama bayi itu Lamine Yamal Nasraoui Ebana.
Lionel Messi ketika itu baru berusia dua puluh tahun. Ia belum mengangkat Piala Dunia. Ia belum memenangkan delapan Ballon d’Or.
Statusnya masih seorang bintang muda yang sedang menanjak, meskipun ia telah memenangkan dua gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions bersama Barcelona.
Menurut Joan Monfort, Messi tampak pemalu dan canggung ketika diminta memandikan seorang bayi yang sama sekali tidak dikenalnya.
Pada awalnya, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menggendong bayi itu.
Tidak ada pidato. Tidak ada nubuat. Tidak ada simbol yang sengaja diciptakan.
Hanya seorang pemain muda yang menjalankan kegiatan amal.
Setelah kalender itu diterbitkan, foto tersebut praktis terlupakan. Selama bertahun-tahun, hampir tidak ada yang membicarakannya.
Barulah ketika Lamine Yamal muncul sebagai fenomena Barcelona dan kemudian menjadi salah satu pemain muda paling bersinar di Eropa, ayahnya membagikan foto lama itu di media sosial dengan keterangan, “awal dari dua legenda”.
Tiba-tiba dunia melihat sesuatu yang dahulu tidak terlihat.
Sebuah cerita yang ditulis perlahan oleh waktu.
Kini narasi itu mencapai puncaknya. Messi memimpin Argentina. Yamal ada di Spanyol. Seorang legenda dari satu generasi dan penerus dari generasi berikutnya berdiri sebagai lawan di panggung sepak bola terbesar.
Joan Monfort pernah mengaku bahwa dahulu ia tidak percaya takdir. Namun setelah melihat bagaimana kehidupan kedua tokoh dalam fotonya berkembang, ia mulai bertanya-tanya apakah semua itu benar-benar sekadar kebetulan.