opini

The Beatles, Eric Clapton dan Kisah Tiga Lagu Cinta Legendaris dari Dua Pria Untuk Satu Perempuan yang Sama

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:02 WIB

Semakin bertambah usia, semakin saya percaya bahwa hidup manusia akhirnya tidak diukur oleh apa yang berhasil dimilikinya.

Ia diukur oleh makna yang berhasil ditinggalkannya. Selama puluhan tahun saya hidup di dunia survei, statistik, dan angka. Dunia itu mengajarkan bahwa hampir semua gejala sosial dapat dihitung.

Namun setiap kali saya mendengarkan Something, Layla, atau Wonderful Tonight, saya kembali diingatkan bahwa ada wilayah kehidupan yang tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada angka.

Tidak ada algoritma yang dapat menjelaskan mengapa satu melodi membuat seseorang menangis.

Tidak ada rumus statistik yang mampu menerangkan mengapa sebuah lagu dapat menemani seseorang selama lima puluh tahun.

Barangkali karena musik bekerja di tempat yang lebih dalam daripada logika. Ia bekerja di ruang tempat kenangan, harapan, dan kerinduan saling bertemu.

Sebagai penulis, saya sering merasa iri kepada para komponis besar. Kami menggunakan kata-kata.

Mereka menggunakan nada.

Kata harus dipahami sebelum menyentuh hati. Nada sering kali menyentuh hati bahkan sebelum akal mengetahui apa yang sedang dirasakannya.

Di situlah saya memahami mengapa musik yang lahir dari kejujuran batin mampu melampaui zamannya.

Saya tidak pernah mengenal George Harrison ataupun Eric Clapton secara pribadi. Namun sepanjang hidup, saya berkali-kali bertemu mereka melalui lagu-lagu mereka.

Ada masa ketika saya masih sangat muda, bekerja hingga larut malam, mengejar mimpi yang terasa lebih besar daripada kemampuan saya sendiri.

Seusai pekerjaan selesai, saya sering memutar lagu-lagu The Beatles. Bukan untuk mencari hiburan, melainkan untuk mencari ketenangan.

Musik mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki pidato atau buku. Ia tidak berdebat dengan kita. Ia hanya duduk diam di samping hati yang sedang lelah.

Kemudian kehidupan membawa saya ke banyak dunia yang berbeda. Saya belajar ilmu politik di universitas, membangun perusahaan, memasuki dunia survei, bertemu presiden, menteri, ulama, pengusaha, seniman, dan tokoh-tokoh yang mengubah arah bangsa.

Halaman:

Tags

Terkini

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB