The Beatles, Eric Clapton dan Kisah Tiga Lagu Cinta Legendaris dari Dua Pria Untuk Satu Perempuan yang Sama

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 2 Juli 2026 | 07:02 WIB

Dalam psikologi modern, banyak keputusan emosional terjadi lebih dahulu daripada kemampuan otak memberi penjelasan logis. Kita sering mencintai sebelum mampu menjelaskan mengapa kita mencintai.

George menangkap misteri itu dengan sempurna. Frank Sinatra kemudian menyebut Something sebagai salah satu lagu cinta terbaik yang pernah ditulis.

Pujian itu datang bukan karena melodinya saja, melainkan karena lagu itu berbicara mengenai sesuatu yang hampir semua manusia pernah rasakan tetapi sulit mereka ungkapkan.

Cinta yang terdalam sering kali dimulai dari sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.

Namun kehidupan jarang berhenti pada satu babak. Di sudut lain, Eric Clapton sedang menghadapi peperangan batin yang jauh lebih rumit.

Ia jatuh cinta kepada istri sahabatnya sendiri. Dalam teori psychological reactance yang diperkenalkan Jack Brehm, sesuatu yang tidak boleh dimiliki justru sering menjadi semakin diinginkan. Larangan memperbesar hasrat.

Perasaan Eric terhadap Pattie tumbuh menjadi obsesi. Ia mengetahui bahwa cintanya tidak mungkin diwujudkan tanpa melukai sahabatnya. Tetapi justru karena mustahil, cinta itu semakin kuat.

Dari pergulatan itulah lahir Layla.

Inspirasinya datang dari kisah klasik Persia, Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi. Ini tentang seorang lelaki yang kehilangan kewarasannya karena cinta yang tidak pernah dapat dimiliki.

Yang menarik, Layla tidak dimulai dengan kata-kata. Ia dimulai dengan gitar. Seolah alat musik lebih dahulu menangis sebelum manusia menemukan bahasa untuk menjelaskan penderitaannya.

Di sinilah saya melihat hukum pertama Teori Transformasi Cinta.

Cinta tidak melahirkan karya besar. Cinta yang terluka, lalu dimaknai dengan jujur, yang melahirkan karya besar.

Luka hanyalah bahan mentah. Makna adalah tungku yang mengubahnya menjadi seni.

Takdir kemudian melakukan sesuatu yang bahkan novel terbaik pun mungkin enggan menuliskannya.

Pattie Boyd akhirnya meninggalkan George Harrison dan menikah dengan Eric Clapton. Seolah cinta yang mustahil akhirnya menang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB
X