Hampir setiap hari saya bekerja dengan angka, grafik, dan probabilitas. Dunia itu mengajarkan saya bahwa hampir segala sesuatu dapat diukur.
Namun semakin bertambah usia, semakin saya sadar bahwa pengalaman manusia yang paling menentukan justru sering tidak dapat dihitung.
Bagaimana mengukur rasa rindu? Bagaimana menghitung kesetiaan?
Bagaimana memberi angka kepada satu lagu yang mampu menemani seseorang selama lima puluh tahun?
Di sinilah musik mengajari saya kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa tidak semua kebenaran dapat dibuktikan dengan statistik.
Sebagian hanya dapat dirasakan.
Ketika saya mendengarkan Something, saya belajar bahwa cinta sering dimulai sebelum akal menemukan alasannya.
Ketika Layla mengalun, saya diingatkan bahwa keinginan yang paling kuat pun tidak selalu membawa kebahagiaan.
Dan setiap kali Wonderful Tonight diputar, saya teringat bahwa cinta yang bertahan tidak selalu membutuhkan kalimat yang luar biasa. Kadang ia cukup hadir melalui perhatian yang sederhana kepada seseorang yang kita pilih untuk berjalan bersama.
Semakin tua saya, semakin sedikit saya mengagumi manusia karena ketenarannya. Saya lebih mengagumi mereka yang berhasil mengubah pengalaman hidupnya menjadi sesuatu yang membuat manusia lain merasa tidak sendirian.
Barangkali itulah definisi seni yang paling sederhana. Seni adalah kesepian seseorang yang akhirnya menemukan rumah di hati jutaan orang.
Pada akhirnya, tiga lagu itu bukan sekadar kisah tentang George Harrison, Eric Clapton, atau Pattie Boyd.
Ia adalah kisah tentang kita semua.
Tentang setiap orang yang pernah mengagumi seseorang tanpa mampu menjelaskan alasannya.
Tentang setiap orang yang pernah kehilangan. Tentang setiap orang yang pernah belajar bahwa memiliki tidak selalu berarti bahagia.
Artikel Terkait
Sindrom Istana Menara Gading, Penguasa yang Jatuh Karena ABS
Negara Bukan Pemilik Tanah Adat
Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara, Satu Hakim Menyatakan Mestinya Bebas
Tumpukan Sampah di Gang Swadaya Albo Cakung Barat, Jakarta Timur Viral di Media Sosial
Piala Dunia 2026: Prancis Menantang Paraguay di Babak 16 Besar