opini

Jangan Anggap Empat Nyawa Hanya Angka, Pesan Penting Meninggalnya Peserta SPPI

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:43 WIB

Semua pertanyaan itu tidak boleh dijawab dengan defensif. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa peserta sudah melalui seleksi kesehatan. Sebab faktanya, empat orang tetap meninggal.

Dalam manajemen risiko, korban berulang adalah tanda bahwa sistem pengaman tidak bekerja optimal. Kalau kecelakaan terjadi sekali, mungkin bisa disebut insiden. Tetapi jika korban terus bertambah, itu sudah menjadi pola.

Dan jika sudah menjadi pola, maka negara wajib berhenti sejenak, memeriksa, lalu mengoreksi total.

Jangan sampai pemerintah menunggu korban kelima, keenam dan seterusnya.

Oleh karena itu, negara tidak boleh bermain-main dengan nyawa rakyatnya sendiri. Penanggung jawab program ini harus berkaca. Jangan hanya sibuk menjelaskan bahwa program ini penting.

Jangan hanya sibuk membela bahwa pelatihan ini bagian dari pembentukan karakter. Karakter memang penting. Tetapi karakter tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keselamatan.

Untuk itulah, pemerintah perlu berani mengambil langkah tegas.

Pertama, hentikan sementara semua bentuk pelatihan fisik berisiko tinggi sampai audit keselamatan selesai dilakukan.

Kedua, bentuk tim investigasi independen yang melibatkan unsur pemerintah, tenaga medis, ahli keselamatan pelatihan, psikolog, ahli pendidikan, dan perwakilan keluarga korban.

Ketiga, buka hasil investigasi kepada publik agar tidak muncul kesan ada yang ditutup-tutupi.

Keempat, ubah kurikulum pelatihan SPPI dari pendekatan militeristik menjadi pendekatan manajerial, sosial, kewirausahaan, koperasi, dan pelayanan masyarakat.

Kelima, pastikan keluarga korban mendapat perhatian negara secara layak. Bukan hanya santunan formal, tetapi juga penghormatan moral, karena mereka meninggal dalam program negara.

Empat nyawa telah pergi. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan evaluasi total. Jangan tunggu korban berikutnya. Jangan tunggu air mata berikutnya. Jangan tunggu publik marah lebih besar.

Sebab dalam program pembangunan, manusia bukan alat. Manusia adalah tujuan.***

*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat

Halaman:

Tags

Terkini

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB