Semua pertanyaan itu tidak boleh dijawab dengan defensif. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa peserta sudah melalui seleksi kesehatan. Sebab faktanya, empat orang tetap meninggal.
Dalam manajemen risiko, korban berulang adalah tanda bahwa sistem pengaman tidak bekerja optimal. Kalau kecelakaan terjadi sekali, mungkin bisa disebut insiden. Tetapi jika korban terus bertambah, itu sudah menjadi pola.
Dan jika sudah menjadi pola, maka negara wajib berhenti sejenak, memeriksa, lalu mengoreksi total.
Jangan sampai pemerintah menunggu korban kelima, keenam dan seterusnya.
Oleh karena itu, negara tidak boleh bermain-main dengan nyawa rakyatnya sendiri. Penanggung jawab program ini harus berkaca. Jangan hanya sibuk menjelaskan bahwa program ini penting.
Jangan hanya sibuk membela bahwa pelatihan ini bagian dari pembentukan karakter. Karakter memang penting. Tetapi karakter tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keselamatan.
Untuk itulah, pemerintah perlu berani mengambil langkah tegas.
Pertama, hentikan sementara semua bentuk pelatihan fisik berisiko tinggi sampai audit keselamatan selesai dilakukan.
Kedua, bentuk tim investigasi independen yang melibatkan unsur pemerintah, tenaga medis, ahli keselamatan pelatihan, psikolog, ahli pendidikan, dan perwakilan keluarga korban.
Ketiga, buka hasil investigasi kepada publik agar tidak muncul kesan ada yang ditutup-tutupi.
Keempat, ubah kurikulum pelatihan SPPI dari pendekatan militeristik menjadi pendekatan manajerial, sosial, kewirausahaan, koperasi, dan pelayanan masyarakat.
Kelima, pastikan keluarga korban mendapat perhatian negara secara layak. Bukan hanya santunan formal, tetapi juga penghormatan moral, karena mereka meninggal dalam program negara.
Empat nyawa telah pergi. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan evaluasi total. Jangan tunggu korban berikutnya. Jangan tunggu air mata berikutnya. Jangan tunggu publik marah lebih besar.
Sebab dalam program pembangunan, manusia bukan alat. Manusia adalah tujuan.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel Terkait
Serombongan Perempuan Pedagang Berjuang Sejak Malam dari Stasiun Maja Banten
Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram
Isu Korupsi, Kriminalisasi Kerugian Bisnis, dan Perlunya Dewan Bussines Judgment Rule
Pasar Asemka Taman Sari, Jakarta Barat Nasibmu Kini
Tirakat politik, Jalan yang Sehat Memulihkan Bangsa yang "Sakit"