Jangan Anggap Empat Nyawa Hanya Angka, Pesan Penting Meninggalnya Peserta SPPI

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:43 WIB

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Belanda Maju ke Babak 32 Besar Setelah Menang Melawan Tunisia

Yang mereka butuhkan terutama adalah kemampuan manajemen, literasi keuangan, tata kelola koperasi, etika pelayanan publik, integritas, kemampuan komunikasi, pengelolaan konflik sosial, pemahaman rantai pasok, digitalisasi usaha, serta kejujuran.

Disiplin memang penting. Mental tangguh juga penting. Tetapi disiplin tidak harus selalu diterjemahkan dalam bentuk latihan fisik yang keras, kaku, dan beraroma militeristik.

Disiplin dalam dunia koperasi bukan disiplin baris-berbaris semata. Disiplin koperasi adalah disiplin mencatat uang rakyat secara benar. Disiplin tidak memanipulasi laporan. Disiplin menjaga amanah. Disiplin hadir tepat waktu. Dan disiplin menghindari korupsi kecil maupun besar.

Mental tangguh untuk calon pengelola koperasi bukan hanya kuat berlari di bawah panas matahari.

Mental tangguh adalah berani jujur ketika ada tekanan. Berani menolak setoran ilegal. Berani melawan praktik mark-up dan seterusnya.

Oleh karena itu, pendekatan pelatihan SPPI harus dievaluasi total. Bukan sekadar diperbaiki sedikit di sana-sini. Bukan sekadar mengganti jadwal, menambah tenaga medis, atau memperketat pemeriksaan kesehatan.

Yang harus dievaluasi adalah filosofi pelatihannya. Apa sebenarnya tujuan program ini? Mencetak pengelola koperasi atau mencetak manusia dengan gaya keprajuritan?

Pemerintah memang sudah menyebut evaluasi akan dilakukan terhadap prosedur pelatihan yang dijalani calon pengelola KDMP dan KNMP.

Tetapi, evaluasi tidak boleh berhenti pada bahasa normatif. Evaluasi harus nyata, transparan, terbuka, dan berani menyentuh akar masalah.

Jika benar ada peserta meninggal karena heat stroke, henti jantung, sesak napas, atau gangguan kesehatan lain saat menjalani pendidikan, maka pertanyaan publik yang wajar, misalnya, apakah asesmen kesehatan awal sudah cukup ketat?

Apakah beban latihan sesuai kondisi peserta sipil?

Apakah pelatih memahami batas kemampuan peserta?

Apakah ada tekanan psikologis yang membuat peserta memaksakan diri meski tubuhnya tak berdaya?

Beberapa pemberitaan menyebut penyebab yang berbeda-beda, mulai dari heat stroke, cardiac arrest, hingga gangguan kesehatan lain yang muncul selama pendidikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB
X