opini

Jangan Anggap Empat Nyawa Hanya Angka, Pesan Penting Meninggalnya Peserta SPPI

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:43 WIB

Oleh Toto Izul Fatah*

WartaPesona - Meninggalnya empat peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dalam rangkaian program KDMP dan KNMP bukan lagi sekadar kabar duka.

Ini sudah menjadi sinyal keras yang tak boleh menganggap empat nyawa peserta itu hanya sebagai angka.

Ini harus menjadi lonceng peringatan bagi pemerintah bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam desain, pendekatan, dan pelaksanaan program tersebut.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Prancis Juara Grup I, Senegal Berpeluang Lolos Lewat Jalur Ketiga Terbaik

Awalnya dua orang meninggal. Lalu bertambah menjadi tiga. Terakhir, menjadi empat orang.

Nama-nama seperti Muhammad Rifqi Renaldi Gunawan, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq bukan sekadar daftar korban.

Mereka adalah anak bangsa. Mereka punya keluarga. Mereka punya masa depan. Mereka datang bukan untuk berperang, tetapi untuk ikut menggerakkan pembangunan ekonomi rakyat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh menganggap kasus ini enteng. Jangan pernah bicara kuantitas jika yang sedang dibicarakan adalah nyawa manusia. Satu nyawa saja terlalu mahal untuk dikorbankan, apalagi empat.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Jepang dan Swedia Menyusul Belanda ke Babak 32 Besar

Dalam urusan nyawa, logika statistik tidak boleh mengalahkan logika kemanusiaan. Tidak boleh ada kalimat pembelaan yang seolah-olah mengatakan jumlah korban masih kecil dibanding jumlah peserta.

Sebagai program, KDMP dan KNMP mungkin baik. Niat besarnya juga bisa dipahami. Tetapi niat baik tidak otomatis berhasil baik jika dijalankan dengan metode yang salah.

Di sinilah kritik harus disampaikan. Mengapa calon pengelola koperasi dan kampung nelayan harus mengikuti latihan dasar kemiliteran yang begitu kental aroma militernya?

Mereka bukan sedang disiapkan untuk medan tempur. Mereka bukan calon kombatan. Mereka bukan pasukan yang akan dikirim ke garis depan perang. Mereka adalah calon pengelola bisnis sosial, penggerak koperasi, pendamping ekonomi desa, dan pelayan masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB