Oleh Rosadi Jamani*
WartaPesona.com - Hari ini umat Islam di seluruh dunia memasuki 1 Muharram.
Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar pergantian angka di kalender.
Padahal kalau ditelusuri, lahirnya kalender hijriah adalah salah satu kisah administrasi paling epik dalam sejarah manusia. Ini bukan cuma soal bulan baru, tetapi soal bagaimana sebuah peradaban yang sedang melesat dari gurun pasir berhasil menciptakan sistem yang rapi ketika sebagian kerajaan lain masih sibuk berantem rebutan takhta.
Baca Juga: Kerusuhan Agustus 2025 dan Terori Sosial Baru yang Menjelaskannya
Di balik kisah itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul seperti komentar netizen yang datang tanpa diundang.
Kalau kalender hijriah baru resmi ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 638 masehi atau 17 hijriah, bagaimana mungkin hadis Nabi Muhammad SAW yang wafat tahun 632 masehi sudah menyebut Ramadhan, Syawal, Muharram, Zulhijah, dan bulan-bulan lainnya?
Tenang. Ini bukan konspirasi lintas dimensi. Bukan juga karena para sahabat punya mesin waktu edisi premium. Jawabannya sederhana. Nama bulan sudah ada sejak lama. Yang belum ada adalah nomor tahunnya.
Ibarat sekarang kita sudah punya nama jalan, tetapi belum ada nomor rumah. Alamatnya ada, kurirnya yang stres.
Baca Juga: Ingat, 20 Juni Akan Ada Festival Wisata Kuliner Malam di Pecinan Glodok Jakarta Barat
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab sudah menggunakan nama-nama bulan yang kita kenal sekarang. Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah bukanlah produk rapat mendadak setelah hijrah. Nama-nama itu sudah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Muharram berarti bulan yang dihormati, bulan ketika perang dilarang. Safar berkaitan dengan keadaan menguning. Ramadhan berasal dari kata ramadha, panas yang membakar. Syawal diambil dari perilaku unta betina yang mengangkat ekornya. Sedangkan Zulhijah adalah bulan ibadah haji.
Ketika Nabi Muhammad SAW bersabda, "Berpuasalah ketika melihat bulan Ramadhan dan berbukalah ketika melihat bulan Syawal," para sahabat langsung paham. Tidak ada yang bertanya, "Ramadhan yang mana, Pak? Versi update atau versi beta?"
Yang belum ada waktu itu adalah angka tahunnya. Nah, di sinilah bagian yang bikin ngakak kalau dibayangkan diterapkan sekarang.